Dokumen Kematian Kennedy Ungkap Sisi Gelap Martin Luther King

abadikini.com, JAKARTA- Presiden Amerika Serkat Donald Trump kembali merilis dokumen terkait kematian John F. Kennedy (JFK) pada Jumat (3/11) waktu setempat. Dokumen tersebut, antara lain mengungkap analisis rahasia FBI yang menggambarkan sosok pemimpin hak asasi manusia Martin Luther King Jr secara negatif.

Baca Juga

Dokumen setebal 20 halaman tersebut menjelaskan keterlibatan King ke berbagai pengaruh komunis dan menuduh ketidakjujuran keuangan di Konferensi Kepemimpinan Kristen Selatan, organisasi hak asasi manusia yang dipimpin King.

Dokumen tersebut juga berisi sindiran dan pernyataan tentang kehidupan pribadi King, termasuk tentang perselingkuhannya dan ketidakpantasan seksual lainnya yang sangat memalukan bagi King di waktu itu. Sisi gelap King yang direkam dalam dokumen tersebut mencakup satu waktu dalam kehidupan King, bersamaan dengan saat ia melakukan perubahan monumental dan perubahan tersebut saat ini banyak dirayakan di Amerika Serikat. 

 

Namun, masih belum ada kejelasan apakah penulis dokumen tersebut telah melakukan verifikasi terhadap informasi-informasi tersebut.

Dirilisnya dokumen tersebut mengungkapkan fokus FBI untuk menggali sisi gelap dari seorang pria yang menjadi ikon Dokumen tersebut bahkan telah tersimpan selama 50 tahun di arsip lembaga intelijen tentang pembunuhan Kennedy.

Perilisan tersebut menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana dokumen King berakhir di file Kennedy beberapa dekade yang lalu dan mengapa pemerintah AS merahasiakannya.

Dokumen King ditinjau oleh Satuan Tugas JFK Arsip Nasional dan Arsip Administrasi pada tahun 1994 dan ditandai dengan “x” untuk penolakan total dalam perilisan. Pilihan “rilis secara penuh” dan “rilis sebagian” dibiarkan kosong di halaman sampul. 

Trump memerintahkan Arsip Nasional untuk melepaskan semua dokumen. Pemerintah mengeluarkan 676 dokumen ntambahan dari berkas pembunuhan Kennedy pada hari Jumat.

Analisis terhadap King pada 12 Maret 1968 menggambarkan sosok King secara negatif dan tidak berusaha memberikan pandangan yang menyeluruh tentang pemimpin hak sipil tersebut. King dibunuh tiga minggu kemudian, tepatnya pada 4 April 1968.

Analisis FBI juga mempertanyakan apakah King seharusnya mendapatkan Hadiah Nobel Perdamaian tahun 1964.

Di bagian lain dokumen tersebut, FBI juga memberikan label tentang penghindaran pajak pada Konferensi Kepemimpinan Kristen Selatan, organisasi hak-hak sipil Afrika-Amerika yang didirikan oleh King. Ini juga menuduh bahwa banyak rekan King memiliki ikatan komunis.

Dokumen itu ditulis saat FBI dipimpin oleh Direktur J. Edgar Hoover, yang menyuruh penyidik ​​melacak King dan memata-matainya. 

Kepentingan FBI terhadap kemungkinan hubungan King dengan komunisme dan kehidupan pribadinya telah lama diketahui.

Saat itu, Hoover memberikan kewenangan pada sebuah program pengawasan ekstensif tentang King di tahun 1960an. Program tersebut menjadi bagian dari program kontra intelijen domestik FBI yang lebih besar, dan menjadi bahan kritik besar di belakang dan menghasilkan banyak reformasi.

Clayborne Carson, Direktur Institut Riset dan Pendidikan Martin Luther King, Jr. dan seorang profesor sejarah Universitas Stanford, meragukan tuduhan dalam dokumen yang baru dirilis dalam sebuah wawancara dengan CNN.

“Ketika kita melihat dari dekat ini, yang kita lihat adalah ada orang yang berusaha keras merusak reputasi Martin Luther King,” kata Carson, mengacu pada Hoover.

Pada tahun 1964, sebuah paket berisi kaset dan sepucuk surat kepada King dikirim ke rumahnya dan dibuka oleh istrinya, Coretta Scott King. 

Surat itu tampaknya mendesak King untuk bunuh diri. Dalam surat tersebut, terdapat kalimat “Hanya ada satu hal yang dapat Anda lakukan. Anda tahu apa itu, Anda hanya memiliki waktu 34 hari.” Sebuah komite senat kemudian mengkonfirmasi paket anonim tersebut telah dikirim oleh FBI. (ak.cnn)

Back to top button