Pengamat Kebijakan Publik: Simpang Susun “Badja/Baja” Bentuk Arogansi dan Keserakahan Politik

abadikini.com, JAKARTA – Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat harus sadar bahwa dia bertugas mengelola pemerintahan bukan mengelola partai politik secara primordial dengan kepentingan ego politik dan ego kalkulatif.

Demikian diungkapkan Pengamat Kebijakan Publik dari Budgeting Metropolitan Watch (BMW), Amir Hamzah kepada abadikini.com saat dihubungi via WhatsApp pada Minggu siang (16/7/2017) terkait rencana pemberian nama proyek Simpang Susun Semanggi.

Selanjutnya Amir menilai bahwa rencana penamaan Proyek Simpang Susun Semanggi sebagai Simpang Susun Badja/Baja oleh Gubernur Djarot merupakan bentuk arogansi dan keserakahan politik. Badja/Baja merupakan singkatan dari Basuki-Djarot.

“Djarot harus sadar bahwa setiap kebijakan harus bisa diargumentasikan berdasarkan asas umum pemerintahan bukan didasarkan pada arogansi untuk membungkus keserakahan politik,” tegas Amir.

Senin besok (17/7/2017) Gubernur Djarot akan menggelar rapim membahas pemberian nama resmi atas proyek Simpang Susun Semanggi dan Simpang Susun Badja/Baja menjadi salah satu dari dua usulan nama yang diajukan pada rapim besok.

Baca juga :

Proyek yang dibiayai dengan APBD DKI Jakarta tersebut memakan biaya sebesar Rp 360 miliar dan dibangun oleh PT Wijaya Karya (WIKA).

Simpang Susun Semanggi akan diresmikan oleh Presiden Jokowi pada 17 Agustus 2017 mendatang bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia yang ke-72. (beng.ak).

Baca Juga

Back to top button