Ekonomi Lesu Harga Komoditas Anjlok

Jakarta abadikini.com Kepala BPS Suryamin menjelaskan, Nilai ekspor Indonesia Januari 2016 mencapai US$10,50 miliar atau menurun 11,88 persen dibanding ekspor Desember 2015. Demikian juga dibanding Januari 2015 menurun 20,72 persen. kondisi ini diperkiraan masih akan berlanjut hingga paruh pertama 2016.

Menurut Suryamin, nilai ekspor turun karena harga komoditas belum bergerak naik. Beberapa komoditas ekspor yang harganya mengalami penurunan cukup drastis, diantaranya batubara sebesar 19,81% (yoy), minyak sawit turun 17,88%, minyak kernel sawit (12,61%), karet (26,06%), dan tembaga (23,31%).

Harga emas juga turun 12,23% , nikel (42,71%), perak (18,2%), timah (29,05%), seng (28,06%), dan harga aluminium turun 18,4%. Sedangkan harga komoditas nonmigas, khususnya manufaktur, adalah perhiasan yang naik 194% dibanding bulan sebelumnya, alas kaki naik 105%, mesin keperluan khusus naik 31,2%, barang logam naik 56,06%, dan konstruksi berat naik 42,46%.

Belanja belum berefek Sedangkan kinerja impor turun karena menurunnya impor barang baku penolong dan barang modal pada Januari 2016. Impor bahan baku atau penolong turun 22,03% (yoy) dan impor barang modal turun 18,96% (yoy).

Satu-satunya impor bulan Januari yang naik signifikan adalah barang konsumsi sebesar 47,68%. “Impor barang konsumsi yang cukup besar adalah gandum, peralatan optik, serta amunisi dan senjata,” kata Suryamin.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo bilang, penurunan ekspor bukan saja disebabkan anjloknya harga komoditas. Sebab selain harga, permintaan yang melemah juga mempengaruhi.

Itulah sebabnya dari 13 negara mitra dagang utama RI, sebagian besar nilai ekspor RI turun. Di sisi impor, percepatan belanja pemerintah belum signifikan mendorong impor. Sasmito memproyeksikan kondisi ini masih akan berlanjut hingga paruh pertama 2016.

Beri Tanggapan Anda?