Cuaca Dingin, Stres Liburan, dan Alkohol: Trio Pemicu Serangan Jantung Akhir Tahun

Abadikini.com, JAKARTA – Liburan kerap identik dengan momen bersantai dan berkumpul bersama keluarga. Namun di balik suasana hangat itu, tersembunyi peningkatan risiko penyakit kardiovaskular sebuah fenomena yang dikenal sebagai holiday heart syndrome. Perubahan pola makan, cuaca ekstrem, hingga stres liburan menjadi kombinasi yang mudah memicu serangan jantung, terutama pada mereka yang memiliki faktor risiko.
Dalam laporan Everyday Health, Minggu (30/11/2025), pakar kardiologi preventif Montefiore Einstein, Robert Ostfeld, MD, mengingatkan bahwa konsumsi alkohol adalah salah satu pemicu paling umum. Ia menegaskan, bagi mereka yang tidak terbiasa minum, liburan bukanlah waktu untuk mencoba. Bahkan dalam jumlah kecil, alkohol dapat meningkatkan peradangan dan memicu dislipidemia, yang memperparah kondisi arteri koroner. Kebiasaan minum berlebihan—meski hanya sesekali—dapat menyebabkan kekakuan arteri dan lonjakan tekanan darah yang berujung pada serangan jantung.
“Dulu kita meyakini satu hingga dua gelas minuman sehari baik untuk jantung. Bukti terbaru justru menunjukkan tidak ada ambang aman. Konsumsi alkohol, sedikit atau banyak, tetap meningkatkan risiko dalam jangka panjang,” ujarnya.
Selain alkohol, pola makan saat libur pun sering berubah drastis. Hidangan daging olahan, makanan cepat saji yang penuh garam, serta camilan manis biasanya mendominasi meja, sementara buah dan sayur kerap terabaikan. Ostfeld mengingatkan, makanan berat tinggi lemak dapat memicu kondisi darurat kardiovaskular hanya dalam satu jam setelah dikonsumsi. Karena itu, mengendalikan porsi dan memilih makanan lebih sehat menjadi langkah penting bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung.
Stres liburan—mulai dari banyaknya tamu, kesibukan sepanjang hari, kurang tidur, hingga lupa minum obat—juga menjadi faktor pemicu. Ostfeld menegaskan bahwa konsistensi gaya hidup sehat jauh lebih penting daripada momen-momen khusus yang sering mengacaukan rutinitas.
Cuaca dingin di akhir tahun pun menambah risiko. Suhu rendah dapat menyempitkan arteri dan menghambat aliran darah. Aktivitas fisik di luar ruangan, terutama bagi mereka yang jarang berolahraga, dapat memberikan tekanan tambahan pada jantung.
Meski sebagian kasus holiday heart syndrome dapat pulih tanpa intervensi medis, gejalanya kerap menyerupai kondisi jantung serius. Palpitasi yang tak mereda, nyeri dada, atau sensasi tidak nyaman lain tidak boleh diabaikan.
Fatima Rodriguez, MD, relawan American Heart Association sekaligus profesor madya kardiologi di Stanford Health Care, menegaskan pentingnya penanganan cepat. Mencari pertolongan medis sesegera mungkin dapat meningkatkan peluang bertahan hidup dan meminimalkan kerusakan otot jantung.
Gejala serangan jantung meliputi nyeri atau ketidaknyamanan di dada, sesak napas, keringat dingin, pusing, mual, serta rasa tidak nyaman pada lengan, bahu, perut, leher, atau rahang. Pada wanita, gejalanya sering lebih samar dan tidak selalu disertai nyeri dada hebat.



