AS Pertimbangkan Pemangkasan Tarif Impor Produk Pertanian yang Tidak Diproduksi Domestik

Abadikini.com, WASHINGTON – Pemerintah Amerika Serikat (AS) tengah mempertimbangkan langkah strategis untuk memangkas tarif impor terhadap sejumlah produk pertanian yang tidak dapat diproduksi secara mandiri di dalam negeri. Kebijakan ini diungkapkan oleh Menteri Pertanian AS, Brooke Rollins, sebagaimana dilaporkan oleh The Wall Street Journal.
Produk-produk yang dimaksud meliputi biji kakao dan kopi, dua komoditas penting dalam rantai pasok pangan nasional yang tidak tumbuh secara alami di wilayah Amerika Serikat karena faktor iklim.
“Kami memahami bahwa ada sejumlah komoditas pertanian yang tidak dapat kami hasilkan secara mandiri karena faktor geografis dan iklim. Oleh karena itu, pemangkasan tarif impor terhadap produk-produk seperti kakao dan kopi merupakan langkah strategis untuk memastikan keberlanjutan rantai pasok dan stabilitas harga dalam negeri,” ujar Menteri Pertanian AS, Brooke Rollins dilansir dari Sputnik–OANA Selasa (1/7/2025).
Ia juga menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara kedaulatan pangan nasional dan keterbukaan dalam perdagangan internasional.
“Kami tetap berkomitmen pada prinsip fair trade, namun juga tidak menutup diri terhadap kerja sama perdagangan yang saling menguntungkan. Kebijakan ini akan menjadi bagian dari upaya membangun hubungan dagang yang lebih konstruktif dengan para mitra internasional kami,” tambahnya.
Langkah ini muncul di tengah dinamika kebijakan perdagangan yang semakin ketat setelah Presiden Donald Trump kembali menjabat di Gedung Putih. Dalam periode awal masa jabatannya, Presiden Trump memperketat kebijakan perdagangan internasional, termasuk:
Penerapan tarif impor terhadap produk dari Meksiko dan Kanada,
Kenaikan tarif atas barang impor dari Tiongkok,
Pengenaan bea masuk terhadap baja, aluminium, dan mobil.
Kebijakan tersebut mencapai puncaknya pada 2 April 2025, saat Presiden Trump mengumumkan tarif dasar impor sebesar 10 persen, serta rencana pemberlakuan tarif “resiprokal” terhadap negara-negara mitra dagang utama AS.
Namun, sepekan kemudian, rencana kenaikan tarif tersebut ditunda, dan Pemerintah AS mulai membuka ruang dialog dan negosiasi bilateral dengan sejumlah negara mitra dagang strategis guna mencapai kesepakatan yang lebih seimbang dan saling menguntungkan.
Kebijakan pemangkasan tarif ini diharapkan dapat menjaga stabilitas pasokan pangan nasional, serta memperkuat hubungan perdagangan dengan negara-negara penghasil produk pertanian tropis.