Kepala Basarnas Tinjau Titik Terisolasi di Agam, Evakuasi Tiga Korban Luka Berat
Abadikini.com, JAKARTA – Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, meninjau langsung pelaksanaan operasi Search and Rescue (SAR) di Sumatera Barat menggunakan helikopter Basarnas pada Sabtu (29/11). Peninjauan udara ini merupakan langkah strategis untuk mempercepat respons dan memantau kondisi terkini di wilayah yang terdampak bencana.
Kepala Basarnas, yang didampingi Kepala Kantor SAR Padang, Abdul Malik, menjelaskan bahwa pengerahan unsur udara bertujuan memperluas cakupan pemantauan, khususnya menjangkau titik-titik yang sulit diakses melalui jalur darat.
“Unsur udara memiliki peran strategis untuk menjangkau titik-titik yang sulit diakses melalui jalur darat. Kami memastikan seluruh potensi SAR bekerja secara maksimal dan terkoordinasi,” ujarnya dikutip dari Jakarta, Minggu (30/11/2025).
Konfirmasi Kondisi di Agam dan Aliran Sungai Stabil
Dalam penerbangan pemantauan tersebut, Kepala Basarnas meninjau sejumlah titik terdampak bencana, termasuk wilayah Kabupaten Agam yang sebelumnya dilaporkan masih terisolasi.
“Saya terbang menggunakan helikopter untuk memantau bagaimana situasi terakhir bencana di Sumatera Barat. Kemarin kami mendapat laporan beberapa tempat masih terisolasi, dan tadi kami menuju ke sana, tepatnya di wilayah Kabupaten Agam,” ungkapnya.
Setelah pemantauan, Kepala Basarnas memastikan bahwa kondisi aliran sungai yang sebelumnya membawa lumpur deras telah mulai stabil. “Saya pastikan kondisi lumpur-lumpur sungai yang deras sudah berhenti, dan banjir sudah mulai surut,” katanya.
Evakuasi Tiga Korban Luka Berat
Selain pemantauan, helikopter Basarnas yang tiba di lokasi juga langsung melaksanakan misi evakuasi setelah menerima informasi adanya tiga korban luka berat.
“Kami mendapatkan informasi bahwa di Kabupaten Agam, tepatnya di Kecamatan Pelambayan, ada tiga korban yang mengalami luka terbuka,” jelas Kepala Basarnas.
Tim SAR segera mengevakuasi para korban yang rata-rata mengalami patah terbuka, di mana kondisi luka tersebut dilaporkan telah berlangsung selama enam hari.
Sumber: Basarnas



