Indonesia di Panggung Dunia, Mengapa Ada yang Ingin Kita Sibuk dengan Konflik?
Oleh: Fariz Maulana Akbar

Abadikini.com, JAKARTA – Belakangan ini muncul seruan keras, “bubarkan DPR”. Kemudian skenarionya berkembang ke arah “aparat negara bunuh rakyat” dan “parlemen gagal tak bermanfaat.” Sekilas terdengar seperti kritik spontan, tapi jika ditelusuri lebih dalam, narasi itu tampak tidak berdiri sendiri. Ada indikasi kuat bahwa isu ini sengaja dipelintir dan dipanaskan, bahkan bisa jadi ada pengkondisian oleh kekuatan asing yang tidak ingin Indonesia stabil dan kuat di panggung internasional.
Kita perlu belajar dari sejarah. Di Timur Tengah, “Arab Spring” dimulai dari insiden tragis. Ketika seorang pedagang bakar diri di Tunisia. Peristiwa itu kemudian diprovokasi menjadi gelombang protes besar, menjatuhkan rezim, dan membuat kawasan tersebut hancur oleh konflik. Pola itu kini seperti dicoba diulang di Indonesia dengan cara menjadikan insiden tragis sebagai bahan agitasi politik.
Kita lihat contohnya. Pertama, kasus pengemudi ojek online yang tewas tertabrak kendaraan taktis Brimob. Sebuah tragedi kemanusiaan yang tentu menyedihkan. Namun, bukannya menunggu investigasi resmi, kasus ini langsung digoreng di media sosial dengan narasi negara membunuh rakyat. Kedua, kebakaran Gedung DPRD di Makassar. Peristiwa ini pun segera di-framing sebagai simbol gagalnya lembaga legislatif, seolah menjadi alasan untuk melegitimasi seruan “bubarkan DPR”.
Dua peristiwa ini dieksploitasi untuk mengadu domba rakyat dengan aparat serta melemahkan kepercayaan kepada institusi negara. Padahal, bisa jadi keduanya adalah insiden yang berdiri sendiri, tapi oleh aktor tertentu dijadikan “bensin” untuk membakar emosi massa.
Lalu apa kepentingannya? Jawabannya ada pada politik luar negeri. Indonesia saat ini sedang memainkan peran penting dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Bulan September ini, Presiden Prabowo dijadwalkan hadir di berbagai forum internasional, membawa agenda besar termasuk dukungan bagi Palestina. Sikap ini jelas tidak disukai pihak-pihak pro-Israel. Jalan tercepat melemahkan suara Indonesia adalah membuat negara kita sibuk dengan konflik internal. Kalau Indonesia gaduh, suara kita di dunia akan melemah.
Karena itu, masyarakat harus waspada. Jangan sampai kita masuk ke jebakan “Arab Spring” ala Indonesia. Kita boleh kritis, kita boleh menuntut keadilan, tapi jangan mau diprovokasi untuk merusak rumah kita sendiri.
Apa yang harus dilakukan? Pertama, pemerintah harus transparan dalam investigasi. Kasus ojek online dan kebakaran DPRD perlu dijelaskan secara terbuka agar tidak jadi bahan hoaks. Kedua, aparat dan lembaga negara harus aktif berkomunikasi dengan publik, bukan diam membiarkan rumor liar beredar. Ketiga, masyarakat perlu melek narasi: jangan gampang percaya framing yang sengaja dibuat untuk memecah belah.
Terakhir, kita semua harus ingat, stabilitas Indonesia adalah modal untuk bisa bersuara lantang di dunia. Dukungan kita pada Palestina, kepemimpinan kita di forum global, semuanya akan melemah kalau kita sibuk saling menjatuhkan di dalam negeri.
Jangan biarkan Indonesia jadi korban skenario asing. Kita lebih besar daripada provokasi. Kita bisa belajar dari Arab Spring, supaya tak terjadi di Negara kita.
Penulis adalah Direktur Jaringan Rakyat untuk Demokrasi Sehat dan Bermartabat (Jarak Dekat)