Group Pidato Adat Sarangkuah Dayuang di Nagari Muaro Paneh

Abadikini.com, SOLOK – Group Pidato Adat Sarangkuah Dayuang yang bertempat di Jorong Balai Pinang Nagari Muaro Paneh Kecamatan Bukit Sundi Kabupaten Solok tetap melakukan kegiatan sekali dalam seminggu meskipun tidak memiliki anggaran.

“Karena semangat dari anak kamanakan, kami dari pemangku adat siap melakukan kaderisasi, mendidik generasi muda kita untuk paham mengenai pasambahan dalam berbagai acara adat,”ungkap Zufri Rajo Indo selaku Ketua Group Pidato Adat Sarangkuah Dayuang di Sekretariat Group tersebut.

Ia mengatakan, saat ini hampir separuh anggotanya sudah dipakai oleh masyarakat adat setempat dalam acara adat seperti baralek nikah kawin, akikah, menaiki rumah, batagak gala, Maminang, manjapuik Marapulai atau manjapuik Sumando, dan sebagainya.

Anggota group Sarangkuah Dayuang sendiri, kata Zufri Rajo Indo, terdiri dari anak kamanakan yang berasal dari seluruh suku yang ada di Nagari Muaro Paneh. Adapun suku di nagari itu terdiri dari 6 suku yaitu suku Caniago, suku Malayu, suku Piliang, suku Tanjuang, suku Koto Sikumbang dan suku Kutianyie.

“Di Nagari lain, mungkin berbeda. Kami, masyarakat di Nagari Muaro Paneh terdiri dari 6 suku yang hidup berdampingan dengan damai,” jelas Zufri Rajo Indo.

Sementara itu, Risko Mardianto Rajo Lelo, SH selaku Sekretaris Group Pidato Adat Sarangkuah Dayuang yang dikonfirmasi ditempat terpisah mengatakan bahwa group yang ia kelola bersama sejumlah pemangku adat di Nagari Muaro Paneh itu telah mendapatkan pengakuan dari Kerapatan Adat Nagari Muaro Paneh serta dari Pemerintah Nagari Muaro Paneh. “Bahkan, di Pemerintah Daerah Kabupaten Solok group Sarangkuah Dayuang sudah terdaftar,” ungkapnya.

Sayangnya, kata laki-laki yang juga berprofesi sebagai wartawan tersebut, perhatian Pemerintah Daerah Kabupaten Solok pada Group Pidato Adat Sarangkuah Dayuang hingga kini belum terlihat. “Nyaris, sejak berdiri tahun 2021, group kami belum sekalipun mendapatkan bantuan Pemerintah. Tapi, kami maklum, sekalipun kami mengetahui dari sejumlah sumber bahwa group lain mendapat perhatian khusus seperti group randai, group Talempong, group kesenian tradisional lainnya,” jelas dia.

Ia berharap agar Pemerintah Daerah Kabupaten Solok tidak hanya fokus membina dan membantu group kesenian daerah tapi juga membina serta membantu group pelestarian budaya daerah seperti budaya sastra melalui pidato adat atau yang biasa dikenal sebagai pasambahan dikalangan masyarakat adat setempat.

“Kami sebetulnya mau memberi usul pada Bupati Solok agar ini diperhatikan. Sebab, ini tidak sekedar bertutur secara adat melainkan dapat dikategorikan sebagai pembangunan sumberdaya manusia kita agar makin baik kedepan. Adat itu mengajarkan Budi pekerti, kesopanan, keluhuran dan kebaikan. Jadi, ini sudah semestinya dibangun dengan merata. Diperhatikan dengan serius dan dibantu agar makin maju,” ungkap laki-laki penikmat kopi itu.

Ketika media ini mengkonfirmasi dari mana anggaran latihan selama ini, Risko mengatakan kalau itu bersumber dari sumbangan para anggotanya dan beberapa dari donatur.

“Kami mengumpulkan donasi dari donatur yang kami anggap mampu membantu dan mereka bersedia. Alhamdulillah, kegiatan berjalan lancar dengan itu. Tapi, sebagian besar memang dana latihan hanya berasal dari uang pribadi anggota. Kedepan mudah-mudahan banyak yang ikut bantu,” ucapnya.

Baca Juga

Berita Terkait
Close
Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker