Terungkap, Ratusan Uskup di Jerman Lakukan Pelecehan Seksual pada Anak

Abadikini.com, BERLIN – Universitas Muenster, Jerman, mengungkapkan sebanyak 196 pemuka agama di keuskupan negara itu melakukan pelecehan seksual pada anak di bawah umur dalam periode 1945-2020.

Penelitian memakan durasi setahun, berawal dari tugas yang diberikan keuskupan Jerman pada Universitas Muenster. Riset berangkat dari dugaan adanya “kegagalan kepemimpinan besar-besaran” dalam rentang tahun 1947-2008.

“Para uskup dan pejabat lain dalam kepemimpinan keuskupan mengetahui kasus pelecehan itu secara ekstensif,” ujar peneliti Universitas Muenster Thomas Grossboelting pada Associated Press, Senin (13/6/2022).

Adapun 196 pemuka agama itu meliputi sejumlah empat persen dari semua imam keuskupan pada periode 1945-2020. Lima persen di antaranya diketahui melakukan aksi lebih dari 10 kali. Total 610 korban yang berhasil dilacak, tetapi Grossboelting memprediksi angka pastinya bisa membengkak 8 hingga 10 kali lipat.

Berdasar klaim kampus yang melakukan penelitian, diketahui pejabat telah menutupi skandal atau hanya melakukan intervensi dangkal tanpa efek jera. Sebagai contoh, pemuka agama yang berkasus cuma diberi sanksi pindah tugas, alih-alih diberhentikan dari jabatannya.

Terlepas dari itu, peneliti menegaskan selama riset berlangsung, mereka diberi kemudahan mengakses dokumen-dokumen pelecehan seksual di keuskupan.

Felix Glenn dari Keuskupan Muenster mengaku belum membaca hasil penelitian itu, tetapi ia berencana menyatakan permintaan maaf pada Jumat (17/6). Glenn juga mengungkapkan bahwa permintaan maaf saja tidak cukup, ia bersumpah memberikan “konsekuensi lebih lanjut” untuk mencegah pelecehan terulang lagi.

Pada 2018, sebuah laporan yang berangkat dari penugasan gereja telah menyebut setidaknya ada 3.677 korban pelecehan pendeta Jerman dalam periode 1946-2014. Lebih dari separuh korban berusia di bawah 13 tahun, sementara hampir sepertiganya bertugas sebagai anak laki-laki altar.

Studi di Universitas Muenster merupakan salah satu dari beberapa tindak lanjut selepas laporan itu muncul. Temuan terbaru diharapkan bisa menekan terjadinya percepatan reformasi gereja.

Baca Juga

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker