Kerusuhan Anti China Pecah di Kepulauan Solomon

Abadikini.com, CANBERRA – Perdana menteri pulau Solomon, Manasseh Sogavare, mengumumkan penguncian selama 36 jam pada hari Rabu menyusul aksi protes besar-besaran di ibu kota Honiara, di mana para demonstran menuntut pengunduran dirinya.

Pada satu titik, pengunjuk rasa bahkan mencoba menyerbu gedung parlemen, dan kemudian menyulut api di sebuah gubuk yang berbatasan langsung dengan gedung legislatif.

Toko-toko dan bangunan lain di distrik Chinatown juga dijarah dan dibakar, meskipun ada perintah penguncian dan jam malam yang sedang berlangsung. Kehancuran itu terekam dalam rekaman yang beredar di dunia maya, dengan bangunan yang rusak dan api yang membara terlihat di tengah lautan puing bangunan.

Pada hari Jumat, ketika personel Australia tiba, Sogavare menyebut aksi protes di negaranya didalangi oleh negara asing yang tidak disebutkan namanya. Ia mengatakan para demonstran telah diberi kebohongan yang salah dan disengaja tentang hubungan pulau itu dengan Beijing.

“Negara-negara yang sekarang mempengaruhi (para pengunjuk rasa) ini adalah negara-negara yang tidak menginginkan hubungan dengan Republik Rakyat China, dan mereka melarang Kepulauan Solomon untuk menjalin hubungan diplomatik,” kata Sogavare, meskipun dia menolak menyebutkan nama yang dimaksud.

Sementara pemerintah Australia telah mengirim polisi, tentara dan staf diplomatik ke Kepulauan Solomon dalam upaya untuk memadamkan demonstrasi dengan kekerasan atas hubungan wilayah itu dengan China. Para pengunjuk rasa baru-baru ini berusaha menyerbu parlemen nasional.

Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengumumkan pengerahan dengan mengatakan bahwa sebuah detasemen yang terdiri dari sekitar 75 petugas polisi federal, 43 tentara, dan setidaknya lima diplomat sedang menuju ke pulau itu untuk memberikan stabilitas dan keamanan dan membantu pemerintah setempat untuk menjaga infrastruktur penting.

Misi mereka diperkirakan akan berlangsung beberapa minggu, dan datang di tengah meningkatnya kerusuhan dan aksi protes terkait dengan serangkaian masalah domestik. Kemungkinan di antaranya adalah keputusan pemerintah Solomon pada 2019 untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Taiwan demi China, yang menganggap Taiwan bagian dari wilayah Beijing.

“Bukan niat pemerintah Australia dengan cara apa pun untuk campur tangan dalam urusan internal Kepulauan Salomon,” tegas Morrison seperti disitir dari Russia Today, Jumat (26/11/2021).

Kondisi Solomon saat ini masih belum menunjukkan tanda-tanda stabil. Memasuki hari ketiga demo besar-besaran masih terjadi, di mana pengunjuk rasa makin beringas dan melakukan pembakaran di sejumlah titik.

Pada Jumat, (26/11/2021), massa bahkan mencoba menyerbu kediaman pribadi Perdana Menteri (PM) Manasseh Sogavare untuk memintanya mundur. Selain penyerbuan ke kediaman PM, pendemo juga mulai membakar gedung dan menjarah toko di ibu kota Honiara.

Ribuan orang dilaporkan mengacungkan kapal dan pisau, mengamuk di kota Chinatown, Point Cruz dan kawasan bisnis. Akibat hal ini, PM Sogavare disebut meminta bantuan tentara asing untuk mengamankan negerinya, termasuk tentara Australia dan Papua Nugin.

Baca Juga

Berita Terkait
Close
Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker