BMKG Prediksi Potensi Tsunami Maluku Terjadi Tanpa Gempa

Abadikini.com, JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi potensi terjadinya tsunami di wilayah Kepulauan Maluku yang tak didahului oleh gempa bumi.

Menurut Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati tsunami di wilayah kepulauan Maluku itu bisa terjadi dipicu oleh longsor bawah laut, bukan akibat gempa.

Berdasarkan hasil penelusuran dan verifikasi zona bahaya yang dilakukan BMKG, potensi longsor laut di wilayah Pulau Seram, , Maluku Tengah, cukup besar. Pasalnya, daerah itu memiliki laut dalam dengan tebing-tebing curam yang sangat rawan longsor di sepanjang garis pantai pulau itu.

“Gempa menjadi trigger terjadinya longsor yang kemudian menyebabkan gelombang. Dalam pemodelan, dapat disimpulkan apakah berpotensi menimbulkan tsunami atau tidak. Bisa saja tidak, tapi ternyata gempa tersebut malah membuat longsor bawah laut yang kemudian memicu tsunami,” ungkap Dwikorita seperti dikutip dari akun Instagram BMKG Jumat (5/9/2021).

Pada kunjungannya ke Pulau Seram, Dwikorita mengunjungi Negeri Samasuru, Negeri Amahai, Kota Masohi, dan Negeri Tehoru.

Di wilayah tersebut, Dwikorita dan tim BMKG bekerja bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, Kepala Pusat Studi Bencana Alam Universitas Pattimura, dan Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Badan Geologi.

Mereka melakukan verifikasi peta bahaya dan menyusuri jalur evakuasi,juga secara langsung mendengar kesaksian dan cerita warga tentang terjadinya gempa dan tsunami masa lalu.

“Di Negeri Tehoru saya melihat langsung jejak tanah yang longsor ke laut. Di Samsuru, warga setempat bahkan telah melakukan perhitungan kedalaman laut dari batas bibir pantai. Jarak 3 meter dari bibir pantai, kedalaman laut sudah mencapai 23 meter,” ujar Dwikorita.

Dwikorita berpendapat sampai saat ini belum ada negara yang mampu mendeteksi tsunami non tektonik secara cepat, tepat dan akurat. Sistem peringatan dini yang dibangun negara-negara lain di dunia adalah sebuah sistem peringatan dini tsunami tektonik.

“Sampai saat ini yang bisa dilakukan dalam upaya memberi peringatan tsunami adalah memantau muka air laut dengan buoy atau tide gauge. Namun, cara tersebut dirasa kurang efektif karena alat tersebut baru bisa memberi informasi setelah tsunami terjadi. Jadi sudah terlambat saat alat tersebut memberikan peringatan, tsunami sudah datang,” ujar Dwikorita.

Dwikorita meminta masyarakat yang bermukim di sepanjang garis pantai di Pulau Seram untuk sesegera mungkin melakukan evakuasi mandiri, apabila merasakan guncangan tanah atau gempa bumi, tanpa harus menunggu peringatan dini dari BMKG.

“Karena dipicu oleh longsoran bawah laut maka estimasi waktu kedatangan tsunami bisa sangat cepat. Hanya dalam hitungan kurang dari 3 menit, seperti yang terjadi di Palu, Sulawesi Tengah,” ujar Dwikorita.

Berdasarkan pengalaman, masyarakat diminta untuk tidak menunggu peringatan dini tsunami. Dwikorita mengimbau masyarakat untuk segera lari begitu merasakan getaran tanah atau gempa. Lalu menjauhi pantai dan segera lari ke bukit-bukit atau tempat yang lebih tinggi.

Lebih lanjut Dwikorita mengatakan bahwa Kepulauan Maluku memiliki sejarah panjang gempa bumi dan tsunami. Oleh karenanya, Ia berharap Pemerintah Daerah dengan pihak terkait dapat melakukan berbagai upaya mitigasi guna mengurangi dampak dan risiko kerugian, jika sewaktu-waktu bencana gempa dan tsunami terjadi.

“Masyarakat harus terus dilatih sehingga tahu apa yang harus dilakukan saat bencana terjadi, disamping penyiapan tempat evakuasi yang secepat mungkin dapat dicapai, melalui jalur-jalur evakuasi yang aman yang disertai rambu-rambu yang jelas,” ungkapnya.

Baca Juga

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker