Benjamin Netanyahu Akui Gagal Bentuk Pemerintah, Kursi PM Israel Dikembalikan ke Presiden Reuven Rivlin

Abadikini.com, TELAVIV – Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu akui gagal membentuk pemerintah koalisi hingga tenggat waktu yang ditentupakan tepat pada Rabu (5/5) tengah malam.

Ia pun mengembalikan mandat kepada Presiden Reuven Rivlin. Dengan kejadian ini menunjukkan bahwa, Netanyahu memberikan kesempatan ke kompetitornya untuk mengambil alih kekuasaan.

Dikutip dari Reuters, Presiden Reuven diduga kuat bakal menugaskan tugas membentuk koalisi kepada anggota parlemen lainnya, Yair Lapid (57). Partai sentrisnya, Yesh Atid, menempati posisi kedua setelah Partai Likud-nya Netanyahu dalam Pemilu Israel yang keempat kalinya, 23 Maret.

Kantor Presiden Reuven Rivlin, dikutip dari AFP, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa Netanyahu telah “memberi tahu [pihak kepresidenan] bahwa dia tidak dapat membentuk pemerintahan dan mengembalikan mandat kepada presiden.”

Dia mengaku akan menghubungi para pemimpin politik pada Rabu (5/5) pagi “mengenai kelanjutan proses pembentukan pemerintahan.”

Pada pemilu terakhir, Likud, partai sayap kanan yang berusia 71 tahun tersebut, memang memenangkan kursi mayoritas. Namun, Netanyahu dan sekutunya tidak mendapatkan mayoritas mutlak, yakni setidaknya 120 kursi di parlemen Israel Knesset.

Mayoritas pemilih tidak mengganjarnya karena kesuksesan program vaksinasi Virus Corona yang terbilang sukses. Kasus korupsi yang tengah menjeratnya disebut jadi batu sandungan.

Setelah melewati waktu 28 hari untuk mengamankan koalisi pasca-pemilu pada 23 Maret, atau yang keempat di Israel dalam rentang kurang dari dua tahun, Netanyahu, yang berkuasa dari 1996-1999 dan 2009 hingga kini, tetap gagal membentuk pemerintah.

Kubu Netanyahu, yang terdiri dari partai-partai sayap kanan dan keagamaan Yahudi, gagal memenangkan mayoritas lantaran tak bisa merangkul kursi tambahan dari pihak lawan.

Senada, kubu oposisi tetap harus menyertakan saingan sayap kanannya itu serta sayap kiri dan sentris tradisional untuk bisa berkuasa.

Kedua belah pihak telah meminta dukungan dari partai-partai yang mewakili sekitar 20 persen minoritas Arab Israel. Jika gol, ada potensi kubu ini punya kursi di Kabinet untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade terakhir.

Pemimpin Partai Raam, yang merupakan partai Islam di Israel, Mansour Abbas mengaku terbuka untuk bergabung demi meningkatkan standar hidup 20 persen minoritas Arab Israel.

Namun, pemimpin Zionisme Religius Bezalel Smotrich, yang berulang kali menyebut Raam sebagai “pendukung teror”, enggan mengajak mereka bekerja sama.

Baca Juga

Back to top button