Konflik Rusia-Ukraina Makin Panas Di Laut Hitam, Inggris Siap Kerahkan Kapal Perang, AS Masih Bingung

Abadikini.com, JAKARTA – Rusia mengirimkan 50 pesawat militer ke perbatasan Ukraina untuk menjalani latihan di atas Laut Hitam. Rusia diketahui memang kini terus memperkuat persenjataannya demi menanggapi konflik Rusia-Ukraina di perbatasan kedua negara itu.

Dilaporkan kantor berita Independen Rusia, Interfax, mereka melakukan sejumlah manuver ke udara, termasuk peluncuran rudal-rudal dan pengeboman pada, Sabtu (17/4/2021) kemarin.

tak hanya itu, bahkan mereka menambahkan pesawat yang terlibat dalam manuver itu adalah Su-27SM, Su-30SM, pesawat pembom SU-24M dan SU-34M, serta pesawat serang Su-25SM3. Selain itu, pesawat angkatan laut dan helikopter juga terlibat dalam latihan perang di kawasan Laut Hitam.

Sementara dihari yang sama, Rusia dan Inggris sama-sama mengirim kapal perang ke Laut Hitam di saat ketegangan antara Moskow dan Ukraina memanas menyusul pengusiran diplomat dari kedua negara.

Rusia mengerahkan dua kapal perang melalui Bosphorus pada Sabtu 17 April 2021 dan mengirim kapal tambahan yang lebih kecil dari armada Kaspia dan Baltik.

Dikutip dari Politico, Minggu (18/4/2021), pengerahan kapal perang Rusia itu bertujuan untuk memperkuat kehadirannya di Laut Hitam.

Pergerakan kapal perang muncul di atas penumpukan pasukan besar-besaran Rusia di sepanjang perbatasannya dengan Ukraina dalam beberapa pekan terakhir yang memicu kekhawatiran kemungkinan invasi oleh Rusia.

Presiden AS Joe Biden membatalkan rencana untuk mengirim dua kapal perang ke Laut Hitam menyusul protes dari Rusia.

Di saat yang sama, Pemerintah Amerika Serikat (AS) memperingatkan maskapai penerbangan komersial untuk berhati-hati saat mendekati daerah itu.

Pihak AS melihat latihan tersebut berpotensi membuat pesawat komersial ditembak jatuh.

Washington pun memperingatkan para pilot untuk tak terbang mendekati zona yang bisa menjadi tempat peperangan di seluruh Ukraina.

Hal itu sempat dialami oleh Boeing 777 MH17 milik Malaysia Airline pada Juli 2014 sialm, yang melewati area perbatasan Rusia dan Ukraina. Pesawat tersebut akhirnya ditembak jatuh oleh pihak pemberintak pro-Rusia yang mengakibatkan 298 orang tewas.

Dalam gejolak panas antara Rusia-Ukraina, dinas keamanan Rusia pada Sabtu menuduh seorang diplomat Ukraina mencoba mengakses basis data penegakan hukum lokal rahasia di Saint Petersburg.

Hal ini mendorong pihak berwenang Rusia mengusir diplomat Ukraina tersebut. Namun, Ukraina menolak tuduhan Rusia tersebut.

“Kami benar-benar menolak tuduhan yang dibuat terhadap petugas konsuler,” kata juru bicara kementerian luar negeri Ukraina dalam pernyataan yang dikirim melalui email.

Dia menambahkan langkah tersebut menunjukkan Rusia memilih ‘garis permusuhan’.

Baca Juga

Berita Terkait
Close
Back to top button