Israel Larang Azan Di Masjid Al-Aqsa Selama Ramadhan, Yordania dan Komunitas Kristen Kecam Keras

Abadikini.com, YERUSALEM – Israel kembali mencoba menghalangi azan di Masjid Al-Aqsa, Yerusalem, dengan cara mengunci empat pintu minaret atau menara masjid, serta melakukan sabotase loudspeaker. Ini terjadi karena loudspeaker dianggap mengganggu tentara baru yang berdoa di tembok Buraq.

Baca Juga

Petugas wakaf di Yerusalem menolak mematikan loudspeaker pada awal Ramadan. Wakaf tersebut dikelola oleh Yordania. Kementerian Luar Negeri Yordania pun mengecam tindakan Israel.

Menurut laporan Arab News, Kamis (15/4/2021), Kemlu Yordania menyebut aksi Israel sebagai tindakan provokasi, pelanggaran hukum internasional, dan status quo bersejarah.

Juru bicara Kemlu Yordania, Daifallah Al-Fayez, menegaskan bahwa departemen wakaf Yerusalem yang memiliki otoritas dalam segala urusan di Masjid Al-Aqsa.

Aksi Israel ini juga mendapat kecaman dari komunitas Kristen di Yerusalem.

Sumber dari Dewan Wakaf Yerusalem berkata ini adalah kasus sabotase pertama sejak 1967.

“Penjajah Israel telah menyabotase kunci-kuncinya agar bisa masuk ke minaret dan secara fisik memutuskan aliran listrik ke loudspeaker, dan mereka mengejar pegawai wakaf dan staf yang menolak melaksanakan permintaan mereka,” ujar sumber tersebut.

Israel merupakan salah satu negara yang menandatangani perjanjian internasional yang mewajibkan bangsa di negara tersebut menghormati tempat-tempat suci, termasuk Masjidil Aqsa.

Sirene Israel dibunyikan di Yerusalem pada Selasa 13 April 2021 pukul 20.00 waktu setempat, sebagai penghormatan kepada 23.938 tentara yang tewas.

Sementara seruan untuk salat Isya atau azan di kota Yerusalem pada hari itu berkumandang pada pukul 20.30 waktu setempat.

Kepala komite Islam-Kristen untuk Yerusalem, Hanna Issa mengatakan bahwa aksi Israel melarang azan di Masjidil Aqsa telah melanggar konvensi Roma 1998, dan meminta komunitas internasional untuk meminta pertanggungjawaban Israel.

Presiden National Christian Coalition in the Holy Land, Dimitri Diliani juga mengatakan bahwa kejadian pelarangan azan di Masjidil Aqsa merupakan upaya Israel untuk menghilangkan kebebasan beragama, dan melancarkan serangan terhadap tempat-tempat suci Islam.

“Selain itu, ini merupakan cerminan dari kebijakan rasisme dari penjajah Israel, yang tidak bisa menerima siapa pun yang bukan Yahudi,” tuturnya.

Anggota Komisi Eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina, Ahmad Tamimi juga mendesak aksi internasional untuk mengakhiri pelanggaran Israel atas tempat-tempat suci Muslim di Yerusalem, termasuk Masjidil Aqsa.

Baca Juga

Back to top button