Tertangkapnya Terduga Teroris Anggota FPI, Novel Bamukmin Sebut Itu Mainan Komunis Untuk Adu Domba Umat Islam

Abadikini.com, JAKARTA – Tim kuasa hukum Habib Rizieq Shihab (HRS), Novel Bamukmin menanggapi soal pengakuan empat terduga teroris yang ditangkap oleh Densus 88. Keempatnya mengaku bahwa mereka adalah anggota Front Pembela Islam (FPI).

Menurut Nobel hal tersebut merupakan cara yang dipakai oleh pihak yang tidak bertanggung jawab yang disebutnya komunis, untuk mengadu domba umat Islam di Indonesia.

“Ini saya melihat adalah cara-cara komunis mengadu domba umat Islam,” ucapnya seperti dilihat dalam kanal YouTube tvOneNews dikutip, Selasa (6/4/2021).

Sebelumnya, Novel Bamukmin mengutuk keras aksi terorisme yang terjadi belakangan.

“Mengutuk keras tindakan biadab teroris yang dilakukan dengan alasan apa pun dan atas nama apa pun,” ucapnya.

Dirinya menjelaskan bahwa kelompoknya para anggota eks FPI dan para pengikut HRS tidak mungkin melakukan hal semacam itu, yakni mengebom dan menodongkan senjata.

“Gak ada cara-cara kita untuk bisa melakukan hal-hal seperti itu, itu tindakan-tindakan pengecut yang gak mungkin dilakukan oleh kita,” tuturnya.

Jikalau memang ada instruksi perang, ungkap Novel Bamukmin, kelompoknya tidak akan melakukannya dengan cara-cara pengecut semacam itu.

Menurut pria yang pernah bekerja di Pizza Hut tersebut, seandainya memang akan perang maka FPI tidak melakukan dengan cara pengecut seperti dengan cara mengebom.

“Kita kalau mau memang ada instruksi perang, ya kita hadapi, harus hadap-hadapan, gak mungkin melakukan cara-cara pengecut. Apalagi tempat-tempat yang memang bersinggungan dengan ibadah,” ucapnya.

Tindakan-tindakan teror semacam itu tidak dibenarkan, tegas Novel, di FPI.

“Ini cara-cara komunis, bukan cara-cara yang dibenarkan di FPI, jangankan main bom, main senjata tajam saja sudah dilarang. Sudah dikeluarkan kalau FPI bawa senjata tajam dan senjata api,” tuturnya.

“Apalagi bom itu sangat dilarang dan bukan anggota FPI, bukan juga pengikut daripada Habib Rizieq,” sambung Novel Bamukmin.

Novel juga tidak terima sejumlah oknum yang mengkaitkan tindakan terorisme dengan FPI.

Menurutnya, kemunculan oknum-oknum tersebut bertujuan untuk melupakan kasus pembantaian enam laskar FPI.

Tak hanya itu, kejadian ini juga menurutnya bertujuan untuk menjelekkan nama-nama mantan anggota FPI.

“Ini kita melihat ada pengalihan-pengalihan dan pembusukan-pembusukan yang dicoba untuk membunuh karakter daripada orang-orang yang berjuang di FPI dahulu,” ucapnya.

“Walaupun sudah dibubarkan akan tetapi itu diarahkan sepertinya kepada orang-orang yang pernah terlibat dan orang-orang mantan FPI itu sendiri.” sambung Novel Bamukmin. (*)

Baca Juga

Back to top button