Trending Topik

Dibandingkan Rusia, China dan Iran, AS Lebih Takut Ancaman Rudal Korut

Abadikini.com, WHASINGTON DC – Sistem pertahanan udara Amerika Serikat (AS) saat ini lebih fokus menangkal ancaman serangan rudal dari Korea Utara (Korut) dan bukan untuk Rusia, China atau Iran.

Baca Juga

AS sendiri telah menunjukkan kemampuan ofensifnya pada hari Rabu lalu ketika tim penerbang Global Strike Command [Komando Serangan Global] meluncurkan rudal balistik antarbenua (ICBM) Minuteman III yang tidak dipasangi hulu ledak nuklir dari Pangkalan Angkatan Udara Vandenberg, California.

“Uji tembak tersebut menunjukkan bahwa penangkal nuklir Amerika Serikat aman, terjamin, andal, dan efektif untuk mencegah ancaman abad ke-21 dan meyakinkan sekutu kita,” kata Angkatan Udara dalam sebuah pernyataan.

“Sistem pertahanan rudal Amerika tidak dirancang untuk menghilangkan stabilitas strategis dengan Rusia, tetapi lebih pada pertahanan terhadap kemampuan peluncuran tunggal atau lebih kecil dari Korea Utara atau musuh lain yang lebih mungkin,” kata Cossa.

“Kami akan sangat tertekan untuk bertahan dari serangan habis-habisan oleh Rusia atau, kemungkinan besar, terhadap China karena mereka kemungkinan dapat membanjiri sistem pertahanan kami,” katanya.

Menurut Riki Ellison, pendiri Aliansi Advokasi Pertahanan Rudal, yang melobi pertahanan, penyebaran, dan pengembangan rudal, mengatakan China jelas merupakan ancaman rudal bagi AS dan sekutunya di kawasan Indo-Pasifik.

Sementara itu dalam webinar yang diselenggarakan Center for Strategic International Studies, lembaga think tank yang berbasis di Washington DC. Jenderal Angkatan Udara John Hyten, Wakil Ketua Kapal Staf Gabungan mengungkap bahwa Korut adalah ancaman utama bagi AS.

“Kemampuan pertahanan rudal nasional kami jelas terfokus pada Korea Utara sekarang,” lanjut dia. ”Bukan pada China, Rusia dan Iran,” imbuh dia yang dilansir Stars and Stripes, Kamis (25/2/2021).

Hyten mengatakan AS harus memiliki teknologi berupa kemampuan mencegat rudal Korut di udara sebelum mencapai sasaran yang dikehendaki.

“Ada kemungkinan mereka benar-benar akan menembaki kami. Oleh karena itu, kami menginginkan kemampuan untuk menembak jatuh,” katanya.

Pada bulan Oktober tahun lalu, Korut memamerkan rudal balistik antarbenua (ICBM) terbesar yang mereka dalam sebuah parade militer. Meskipun belum menguji senjata nuklir atau ICBM sejak akhir 2017, tetapi uji coba rudal jarak pendek Korut terus berlanjut hingga saat ini.

“Kami harus memastikan bahwa, saat kami melangkah maju, kami mempertahankan kemampuan untuk menolak kemampuan Korea Utara untuk secara efektif menyerang Amerika Serikat dengan percaya diri,” kata Hyten.

Sedangkan pandangan yang digaungkan oleh Ralph Cossa, mantan perwira Angkatan Udara dan presiden emeritus dari lembaga think tank Pacific Forum di Honolulu agak sedikit meragukan kapabilitas Korut.

“Kemungkinan Korea Utara akan menembakkan rudal ke wilayah AS atau sekutunya, meski [kemungkinan] rendah, jauh lebih tinggi daripada serangan rudal dari China atau Rusia dan, oleh karena itu, menimbulkan ancaman langsung terbesar,” kata Cossa hari Kamis dalam email kepada Stars and Stripes.

“Dalam hal kemampuan, tentu saja, hanya Rusia yang menjadi ancaman eksistensial bagi AS, yang memiliki kemampuan menghancurkan kami (dan kemanusiaan) beberapa kali lipat (seperti halnya kami),” katanya.

“Alasan mengapa probabilitas rendah dalam semua kasus adalah kemampuan kami untuk membalas secara besar-besaran.” tandas Cossa.

Baca Juga

Back to top button