AS Melunak Soal Nuklir Iran, Israel Gunakan Segala Cara untuk Menjegalnya

Abadikini.com, JAKARTA – Pada pertengahan Januari lalu, media Israel melaporkan bahwa Amerika Serikat (AS) di bawah pemerintahan Joe Biden sedang merundingkan kembalinya Washington ke Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA), mungkin untuk memperkenalkan perubahan tertentu padanya.

Sedangkan AS pada pemerintahan Donald Trump secara sepihak menarik AS dari JCPOA pada 2018 dan menerapkan kembali sanksi terhadap Teheran.

Sebelumnya pada 2015, Iran menandatangani (JCPOA) dengan anggota tetap Dewan Keamanan PBB, Jerman, dan Uni Eropa. Perjanjian ini mengharuskan Iran untuk mengurangi program nuklirnya dengan imbalan keringanan sanksi.

Ini mendorong Iran untuk mengumumkan bahwa mereka secara bertahap akan meninggalkan kewajibannya berdasarkan kesepakatan JCPOA, pertama-tama, batasan pengayaan uranium.

Pada bulan Desember, Iran mengeluarkan undang-undang untuk meningkatkan pengayaan uraniumnya dan menghentikan inspeksi PBB atas situs nuklirnya sebagai tanggapan atas pembunuhan ilmuwan nuklir terkemuka Mohsen Fakhrizadeh, yang merupakan salah satu tokoh kunci di balik program nuklirnya.

Teheran menyalahkan pembunuhan itu pada Israel. Pada bulan Januari, organisasi energi atom Iran mengumumkan bahwa negara tersebut telah berhasil memperkaya uranium hingga 20 persen di Pabrik Pengayaan Bahan Bakar Fordow, sementara pekan lalu, Teheran memutuskan untuk membatasi inspeksi situs nuklirnya oleh IAEA.

Merespon manuver Iran, Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu langsung mengadakan pertemuan strategis yang mencakup Menteri Pertahanan Benny Gantz, Menteri Luar Negeri Gabi Ashkenazi, Kepala Staf IDF Letjen. Aviv Kochavi, dan kepala Mossad Yossi Cohen. Pertemuan itu membahas kesediaan pemerintahan Biden untuk bernegosiasi dengan Iran mengenai kesepakatan nuklir.

Usai menggelar pertemuan strategis Netanyahu menegaskan, Israel tidak akan bergantung pada perjanjian nuklir Iran dan akan “melakukan segalanya” untuk mencegah kepemimpinan Teheran mendapatkan senjata nuklir.

“Israel tidak menggantungkan harapannya pada kesepakatan dengan rezim ekstremis seperti (Iran). Kami sudah melihat berapa nilai perjanjian ini dengan Korea Utara,” kata Netanyahu pada upacara peringatan Pertempuran Tel Hai tahun 1920.

“Dengan atau tanpa kesepakatan, kami akan melakukan segalanya sehingga (Iran tidak) dipersenjatai dengan senjata nuklir,” imbuhnya seperti dikutip dari Sputnik, Rabu (24/2/2021).

Kepala Staf Umum Pasukan Pertahanan Israel Letnan Jenderal Aviv Kohavi mengatakan saat itu bahwa apa pun yang terlihat seperti perjanjian saat ini atau versi yang lebih baik akan menjadi kesepakatan yang buruk dari sudut pandang operasional dan strategis.

“Dan, oleh karena itu, tidak dapat diterima oleh Israel,” ujarnya.

Baca Juga

Back to top button