Usai Warga Tuban Mendadak Kaya, Berikut Lokasi Lain Proyek Kilang Miyak Pertamina

Abadikini.com, JAKARTA – PT Pertamina (Persero) memiliki mega proyek strategis bernilai US$ 43 miliar atau sekitar Rp 602 triliun (asumsi kurs Rp 14.000 per US$) yakni mega proyek kilang minyak dan petrokimia.

Proyek ini terdiri dari kilang bahan bakar minyak (BBM), petrokimia, hingga kilang pengolahan minyak sawit (Crude Palm Oil/ CPO) menjadi bahan bakar (biorefinery). Berdasarkan data terbaru Pertamina, setidaknya ada 10 proyek kilang dan petrokimia yang akan dibangun ini.

Bila keseluruhan proyek ini berjalan, maka tentunya akan memberikan efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian nasional, maupun daerah. Selain akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja, ini juga bisa memajukan perekonomian daerah setempat proyek ini berada.

Contoh nyata baru-baru ini mencuat dari proyek kilang baru di Tuban, yang digarap Pertamina bersama perusahaan minyak asal Rusia, Rosneft. Meski proyek ini belum dibangun secara fisik, bahkan baru sampai tahap pembebasan lahan, namun ini malah membuat warga setempat kebanjiran rezeki dengan adanya uang ganti rugi dari pembebasan lahan untuk Kilang Tuban ini.

Seperti diketahui, beberapa hari ini media sosial dihebohkan dengan ratusan mobil dibeli oleh satu desa di Tuban, tepatnya di Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

Menjadi tak biasa karena dalam unggahan video yang ditayangkan dalam akun Instagram @undercover.id tersebut menyebutkan bahwa warga desa memborong mobil baru usai terima ganti rugi lahan kilang minyak.

“Warga ramai-ramai membeli mobil baru usai terima uang ganti rugi lahan kilang minyak Desa Sumurgeneng, Kec.Jenu, Kab.Tuban Jawa Timur,” demikian isi unggahan dalam akun Instagram @undercover.id, yang ditayangkan hari ini, Selasa (16/02/2021).

Dalam video tersebut tampak mobil polisi yang turut mengawal datangnya sejumlah mobil baru tersebut.

“Satu desa borong mobil. mantap..!!” begitu tulisan dalam video tersebut.

Mengutip detikcom, Kepala Desa Sumurgeneng, Gihanto, membenarkan peristiwa tersebut. Menurutnya, warga beramai-ramai memborong mobil baru usai menerima uang ganti rugi pembebasan lahan untuk pembangunan kilang minyak, dari Pertamina dan Rosneft.

Tanah warga dibayar dengan harga Rp 600 ribu sampai Rp 800 ribu per meternya. Ia menambahkan, uang yang diterima warga terbilang banyak, sehingga mereka memutuskan membeli mobil, yang bisa digunakan untuk sehari-hari.

“Sampai sekarang sudah ada sekitar 176 mobil baru yang datang. Terakhir kemarin ada 17 mobil baru,” kata Gihanto saat dihubungi detikcom, Selasa kemarin (16/2/2021).

Menurutnya, rata-rata warga mendapatkan uang ganti rugi pembebasan lahan oleh Pertamina Rp 8 miliar. Lalu, ada warga dengan kepemilikan lahan 4 hektare yang menerima Rp 26 miliar.

Selain proyek Kilang Tuban ini, mana lagi proyek kilang Pertamina yang bakal memberikan rezeki nomplok bagi warga lokal?

Berdasarkan data Pertamina, saat ini perseroan tengah memproses pembebasan lahan untuk pabrik petrokimia Jawa Barat atau disebut dengan proyek Petrochem Jabar.

Lahan tahap 1 disebutkan dalam proses revisi penilaian Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) oleh Dewan Penilai (MAPPI) dan target tuntas pada Februari 2021 ini. Seperti diketahui, KJPP ini berperan untuk menilai besaran uang ganti rugi yang layak bagi warga yang dibeli lahannya.

Lalu, untuk pembebasan lahan tahap 2 telah dilakukan penandatanganan Surat Keputusan (SK) tentang penentuan lokasi oleh Gubernur Jawa Barat pada 27 Desember 2020.

Pre studi kelayakan (Feasibility Study/ FS) pun telah dilakukan pada 8 Januari 2021 dan kini tengah proses negosiasi untuk pembentukan usaha patungan (JV).

Proyek Petrochemical Jabar ini ditargetkan menghasilkan 1 juta ton per tahun ethylene cracker dan ditargetkan beroperasi pada 2027 mendatang.

Lantas, mana lagi proyek yang akan membutuhkan pembebasan lahan baru lagi?

Sayangnya, Corporate Secretary PT Kilang Pertamina Internasional Ifki Sukarya enggan menyebutkan hal ini.

Mega proyek Pertamina ini ditargetkan memproduksi 1,2 juta barel per hari (bph) bahan bakar minyak (BBM) dan 12 juta ton per tahun petrokimia di 2027. Adapun standar kualitas BBM yang diproduksi yakni ditargetkan mencapai Standar Euro V dari kini masih Standar Euro II.

Adapun kapasitas pengolahan minyak mentah ditargetkan naik menjadi sekitar 1,4 juta bph dari kini sekitar 1 juta bph.

Berdasarkan data Pertamina per Februari 2021, berikut sejumlah mega proyek kilang BBM dan petrokimia Pertamina:

1. Kilang baru atau Grass Root Refinery (GRR), Tuban-Jawa Timur

Mengolah 300 ribu barel per hari (bph) minyak mentah dan ditargetkan beroperasi pada 2026.

2. Kilang ekspansi atau Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, Kalimantan Timur

Terbagi ke dalam dua fase, yakni:
– Fase 1, ditargetkan beroperasi pada 2023 dengan tambahan kapasitas 100 ribu bph menjadi 360 ribu bph dari 260 ribu bph.
– Fase 2, ditargetkan beroperasi pada 2025 dengan meningkatkan kualitas fleksibilitas pengolahan minyak mentah.

3. RDMP, Balongan-Jawa Barat

Terbagi ke dalam dua fase, yaitu:

– Fase 1, akan meningkatkan kapasitas pengolahan minyak mentah sebesar 25 ribu bph menjadi 150 ribu bph dari 125 ribu bph saat ini. Ditargetkan mulai beroperasi pada 2022.
– Fase 2, akan memperbaiki kualitas produk menjadi Standar Euro V dan ditargetkan beropeasi pada 2025.

4. RDMP, Cilacap-Jawa Tengah

Ditargetkan akan meningkatkan kapasitas pengolahan minyak menjadi 400 ribu bph dari saat ini 348 ribu bph dan ditargetkan beroperasi pada 2027.

5. RDMP, Plaju-Sumatera Selatan

Ditargetkan beroperasi pada 2027. Kapasitas saat ini 85 ribu bph.

6. RDMP, Dumai-Riau

Ditargetkan beroperasi pada 2027. Kapasitas saat ini 170 ribu bph.

7. Biorefinery, Cilacap-Jawa Tengah

Terbagi ke dalam dua tahap:
– Tahap 1, berkapasitas olahan turunan minyak sawit (RBDPO) 3.000 bph dan ditargetkan beroperasi pada 2021.
– Tahap 2, berkapasitas 6.000 minyak sawit (CPO) dan ditargetkan beroperasi pada 2022.

8. Green Refinery, Plaju-Sumatera Selatan

Ditargetkan mengolah 20 ribu bph minyak sawit (CPO) dan beroperasi pada 2024.

9. Petrochem, Indramayu-Jabar

Ditargetkan memproduksi 1 juta ton per tahun ethylene cracker dan beroperasi pada 2027.

10. Kilang petrokimia, Balongan-Jawa Barat

Ditargetkan memproduksi 300 ribu ton per tahun petrokimia dan ditargetkan beroperasi pada 2024.

11. Olefin TPPI, Tuban-Jawa Timur

Ditargetkan memproduksi 1 juta ton per tahun ethylene cracker dan ditargetkan beroperasi pada 2025.

12. Revamping TPPI, Tuban-Jawa Timur
Ditargetkan meningkatkan produksi aromatik menjadi 780 ribu ton per tahun dari saat ini 600 ribu ton per tahun. Ditargetkan beroperasi apda 2022.

13. Pabrik farmasi atau petroleum to pharmaceutical, Brebes-Jawa Tengah
Ditargetkan memproduksi 3,8 juta ton per tahun paracetamol dan ditargetkan beroperasi pada 2024.

Baca Juga

Berita Terkait
Close
Back to top button