Emosi Trump ke Bashar al-Assad, Nyaris Perang Bawa AS Perang Terbuka dengan Suriah

Abadikini.com, WHASINGTON DC – Mantan Wakil Penasihat Keamanan Nasional K.T. McFarland mengungkapkan bahwa mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump nyaris menyulut perang besar antara AS dengan Suriah.

Ceritanya, pada April 2017 silam saat awal Trump memulai jabatannya di Gedung Putih. Trump marah-marah ingin membunuh Presiden Suriah Bashar al-Assad yang bisa membawa kedua negara terlibat perang.

Kejadian ini berawal saat pemerintah Suriah melancarkan serangan udara ke kubu pemberontak, yang menyebabkan puluhan korban sipil dalam serangan yang mengerikan itu.

Dengan laporan awal yang menunjukkan senjata kimia telah digunakan, Trump mengumpulkan penasihat terdekatnya untuk pengarahan intelijen.

McFarland menjelaskan bahwa saat itu ia melihat presiden yang “mendidih” berjalan ke arah mereka.

“Steam keluar dari telinganya. Dia marah, dia kesal,” ungkap McFarland dalam episode kedua serial dokumenter baru BBC; “Trump Takes on the World”, yang dikutip Mirror, Rabu (17/2/2021).

Trump mengeluarkan koran untuk menunjukkan foto-foto wanita dan anak-anak yang menjadi korban serangan gas Sarin.

McFarland mengklaim Trump, yang ingin membunuh Presiden Suriah Bashar al-Assad sebagai tanggapan atas serangan itu, berteriak: “Saya ingin membunuhnya.”

Pada saat itu Trump harus dibujuk untuk tidak melakukan tindakan agresi yang merusak pada banyak kesempatan.

Ketika semua pria di ruangan itu melihat ke sepatu mereka, McFarland adalah orang pertama yang berbicara menentang keinginan Trump.

Sebagai tanggapan, McFarland berkata; “Tuan Presiden, Anda tidak dapat melakukan itu. Itu adalah tindakan perang.”

Presiden dilaporkan membalas: “Mereka sudah berperang dengan kita, ini perang.”

Ketika McFarland menjelaskan bahwa itu bukan deklarasi perang resmi, Trump memelototi penasihatnya dan duduk.

“Saya tahu apa yang dia ingin lakukan adalah menghukum Assad, dan tidak membiarkan dia lolos begitu saja,” kata McFarland.

Jenderal H.R. McMaster, mantan Penasihat Keamanan Nasional Trump, menjelaskan bahwa Trump menginginkan semacam pencegah, jadi mereka mulai membuat rencana serangan rudal terhadap pemerintah Suriah 24 jam kemudian.

Bagian dari kampanye Trump adalah keluar dari perang di Timur Tengah, tetapi di sini dia akan memulai operasi militer besar-besaran.

Baca Juga

Back to top button