Junta Militer Myanmar Ungkapkan Motif Kudeta dan Janjikan Hal Ini kepada Demonstran

Abadikini.com, JAKARTA – Pemerintah junta militer Myanmar berjanji kepada demonstran akan menyerahkan kekuasaan kepada pemenang pemilu melalui proses pemilu yang demokratis dan transparan, Selasa (16/2/2021).

Mereka juga membela perebutan kekuasaan pada 1 Februari dan menyangkal bahwa itu adalah kudeta ketika para pengunjuk rasa turun ke jalan lagi untuk mendukung Suu Kyi dan para pemimpin lain yang ditangkap seperti dikutip dari Reuters.

“Tujuan kami adalah untuk mengadakan pemilihan dan menyerahkan kekuasaan kepada partai pemenang,” kata Brigjen Zaw Min Tun, juru bicara dewan yang berkuasa, mengatakan pada konferensi pers pertama junta sejak menggulingkan pemerintahan Suu Kyi.

Zaw Min Tun mengatakan militer tidak akan lama memegang kekuasaan. Namun, sejauh ini militer belum memberikan tanggal untuk pemilihan baru tetapi telah memberlakukan keadaan darurat selama satu tahun.

“Kami menjamin … bahwa pemilihan akan diadakan,” katanya dalam konferensi pers yang berlangsung hampir dua jam, yang disiarkan langsung oleh militer dari ibu kota, Naypyitaw, melalui Facebook.

Terkait dengan penahanan Aung San Suu Kyi, Presiden dan sejumlah petinggi sipil lainnya, Zaw Min Tun menolak saran bahwa mereka ditahan, dengan mengatakan mereka berada di rumah mereka untuk keamanan mereka sementara hukum mengambil jalannya.

Diketahui, penahanan seperti ini bukan pertama kalinnya dialami oleh Aung San Suu Kyi (75).

Sebelumnya Suu Kyi pernah menghabiskan hampir 15 tahun sebagai tahanan rumah atas upayanya untuk mengakhiri kekuasaan militer.

Ia menghadapi tuduhan mengimpor radio walkie talkie secara ilegal dan ditahan hingga Rabu (17/2/2021). Pengacaranya mengatakan pada hari Selasa bahwa polisi telah mengajukan dakwaan kedua karena melanggar Undang-Undang Penanggulangan Bencana Alam.

Penahanan yang berujung penggulingan ini menyulut aksi massa yang besar di Myanmar. Setiap hari massa membanjiri kota-kota besar seperti Yangon, Myitkyina, dan Mandalay untuk menuntut militer menyudahi kekuasaannya dan membebaskan Suu Kyi. Tak hanya berdemo, aksi ini juga diikuti pemogokan massal yang dilakukan para pegawai pemerintah.

Dua pekan lalu pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi dikudeta. Ia ditahan militer setelah tentara menuding pemilu yang partainya, Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) menangkan penuh dengan aksi-aksi kecurangan.

Baca Juga

Back to top button