Anggota Parlemen Rusia Bicara Soal Kegagalan Pemakzulan Trump

Abadikini.com, MOSKOW – Anggota Parlemen Rusia, Leonid Slutsky mengaku telah memprediksi bahwa upaya untuk mendakwa Donald Trump pada akhirnya akan gagal.

Namun, Ketua Komite Urusan Luar Negeri Duma, atau Majelis Rendah Parlemen Rusia itu menyebut masyarakat Amerika Serikat (AS) masih terpecah.

“Kegagalan upaya kedua untuk mendakwa Trump cukup bisa diprediksi,” kata Slutsky dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Tass pada Senin (15/2/2021).

“Prosedur yang belum pernah terjadi sebelumnya ini berakar pada perselisihan antar-partai dan balas dendam yang belum terselesaikan dari Demokrat atas kekalahan Hillary Clinton pada tahun 2016 dan kerusuhan di Capitol Hill yang mereka coba untuk disalahkan pada Trump,” sambungnya.

Lanjut dia menjelaskan, situasi saat ini menunjukkan bahwa perpecahan dalam masyarakat dan kemapanan politik Amerika masih ada.

“Namun, tentu saja, ini adalah urusan dalam negeri AS,” ujarnya.

Senat AS sendiri akhirnya membebaskan Trump dari hukuman dalam sidang pemakzulan keduanya dalam satu tahun.

Dari 100 anggota Senat, 57 mendukung untuk menghukum sang mantan presiden dan 43 memilih untuk membebaskannya.

Jumlah ini tidak sampai dari dua pertiga mayoritas yang diperlukan untuk menghukum Trump dengan tuduhan menghasut pemberontakan yang menewaskan lima orang, memaksa anggota parlemen untuk melarikan diri, dan menempatkan wakil presiden dalam bahaya saat mengawasi sertifikasi kemenangan pemilihan Joe Biden.

Trump menggambarkan persidangan pemakzulannya sebagai fase lain dalam perburuan penyihir yang sedang berlangsung. Hal itu diungkapkan Trump dalam sebuah surat yang diterbitkan NBC.

“Ini telah menjadi fase lain dari perburuan penyihir terbesar dalam sejarah negara kita. Tidak ada presiden yang pernah mengalami hal seperti itu,” kata Trump.

“Ini adalah komentar yang menyedihkan di zaman kita, bahwa satu partai politik di Amerika diberikan izin bebas untuk merendahkan supremasi hukum, memfitnah penegakan hukum, menyemangati massa, memaafkan perusuh, dan mengubah keadilan menjadi alat pembalasan politik dan menganiaya, daftar hitam, batalkan, dan tekan semua orang dan sudut pandang dengan siapa atau yang tidak mereka setujui,” tukasnya

Baca Juga

Back to top button