Cerita Agen Intel Wanita Israel dalam Menjalankan Misi Besarnya, Penuh Intrik, Merayu hingga Cinta

Abadikini.com, JAKARTA -Kehidupan agen Mossad perempuan itu ibarat seperti perayu pria dengan kehidupan glamornya. Dalam menjalankan misinya dunia mereka penuh intrik, malam tanpa tidur dan, terkadang sebuah godaan yang besar.

Kondisi bahaya yang selalu mengintai mereka hal itu dilakukan semua demi negara, dengan ketegangan luar biasa pada keluarga mereka.

Mengutip dari Times of Israel, agen Mossad wanita ini menceritakan kehidupannya dalam menjalankan sebuah misinya.

Mereka menggunakan tipu muslihat ‘kewanitaan’ mereka untuk melayani negara.

Wanita, yang semuanya memiliki pangkat komandan atau lebih tinggi (setara dengan brigadir jenderal atau kolonel di IDF), telah terlibat dalam beberapa operasi yang paling berani dan penting dari badan tersebut.

Salah satu agen, yang bernama Efrat, menunjukkan bahwa menggoda adalah tindakan yang adil dalam hal keamanan nasional.

Dia mengatakan bahwa wanita memiliki keunggulan tertentu dibandingkan pria.

“Seorang pria yang ingin mendapatkan akses ke area terlarang memiliki peluang lebih kecil untuk diizinkan masuk. Wanita yang tersenyum memiliki peluang lebih besar untuk sukses.

Kami menggunakan kewanitaan kami karena cara apa pun sah,” ungkap Efrat komandan operasional wanita paling senior di Mossad.

Komandan wanita Mossad itu mengatakan, bahwa dalam melakukan sebuah misinya ia terkadang apakah harus dengan cara meniduri pria yang ditemuinya dalam menjalankan sebuah misi yang besar.

“Kami berpikir bahwa cara untuk memajukan misi adalah tidur dengan kepala staf (Presiden Iran Mahmoud) Ahmadinejad, tidak ada seorang pun di Mossad yang akan mengizinkan kami untuk melakukannya.” tuturnya.

Efrat menambahkan, bahwa dalam menjalankan sebuah misi rahasianya itu hanya sebatas merayu pria tidak untuk menidurinya.

“Agen wanita tidak digunakan untuk tujuan seksual Kami menggoda, tetapi batasnya adalah berhubungan seks. ” katanya.

Salah satu operasi Mossad paling terkenal yang mengerahkan wanita adalah pada tahun 1987.

Yakni ketika seorang agen wanita, “Cindy,” memikat Mordechai Vanunu – seorang teknisi nuklir di pabrik Dimona yang menjual rahasia persenjataan nuklir Israel kepada Sunday Times – dari London ke Italia.

Vanunu kemudian dibius dan dibawa kembali ke Israel dengan kapal untuk diadili.

Efrat mencatat dengan sadar bahwa dia tahu hidupnya akan berakhir jika dia tertangkap dan mengatakan itu adalah risiko yang bersedia dia ambil demi keamanan nasional Israel.

Agen lain yang bernama Ella berbicara tentang dampaknya terhadap kehidupan keluarganya dalam menjalankan sebuah misi rahasianya.

“Saya meninggalkan rumah yang aman, suami saya dan tiga anak kecil saya tidur dengan aman di tempat tidur mereka dan saya beruraian air mata.” Ceritanya.

Para wanita mencatat bahwa merekrut agen wanita itu sulit.

Gaya hidupnya terlalu menuntut bagi banyak wanita yang telah berkeluarga, misalnya, oleh karena itu sebagian besar agen wanita masih lajang dan yang lain menyerah di bawah tekanan.

Tetapi kepala Mossad Tamir Pardo, dalam komentar yang jarang direkam, memuji wanita Mossad sebagai agen luar biasa.

Dia memuji kapasitas mereka untuk melakukan banyak tugas, dan untuk menekan ego mereka untuk mencapai tujuan.

“Bertentangan dengan stereotip, Anda melihat bahwa kemampuan perempuan lebih unggul daripada laki-laki dalam hal memahami wilayah, membaca situasi, kesadaran special, saat mereka bagus, mereka sangat bagus” pungkasnya.

Baca Juga

Back to top button