Uniknya Masjid Perahu, Wisata Religi yang Tersembunyi

Abadikini.com, JAKARTA – Masjid berbentuk perahu yang diberi nama Masjid Agung Al Munada Darussalam Baiturrahman ini terletak di antara gedung-gedung tinggi Jalan Casablanca, Jakarta Selatan. Lokasinya yang terletak di dalam lorong kecil membuat pelancong hanya bisa jalan kaki atau mengendarai sepeda motor terpesona melihatnya.

Baca Juga

Adalah KH Abdurrahman Massud yang membangun masjid berbentuk perahu tersebut, terinspirasi dari kisah nabu Nuh dengan Perahunya yang melegenda. Masjid tersebut sengaja dibangun tersembunyi dari padatnya Ibu Kota.

Ada dua jalan untuk menuju lokasi ini, Anda bisa berhenti di depan gapura masjid yang terletak di Jalan Casablanca kemudian berjalan sekitar 100 meter. Jika ingin mengendarai motor, Anda bisa masuk melalui Jalan Menteng Pulo Atas, kemudian menyusuri gang-gang kecil.

Anda jangan khawatir, meskipun terletak di lokasi yang tertutup megahnya gedung, masjid tersebut memiliki area parkir yang luas. Kebanyakan yang datang adalah para pekerja kantoran yang berada di sekitar masjid.

Bentuk perahu merupakan ide KH Abdurrahman Massud yang terinspirasi dari kisah Nabi Nuh, yaitu cerita tentang selamatnya umat nabi saat banjir dengan menumpang perahu buatan Nabi Nuh itu.

Meskipun terletak di antara gedung megah, pohon rindang yang berada di sekitar masjid menjadi penghalang masuknya cahaya matahari. Jadi, meskipun cuaca sedang panas, Anda akan tetap merasa sejuk berada di lingkungan masjid.

Adapun keunikan yang ada di Masjid Perahu ini adalah keberadaan bangunan berbentuk perahu di bagian luar masjid. Menurut seorang warga sekitar, Solikhin (40), keberadaan perahu itu bersamaan dengan dibangunnya masjid pada 1963 silam. “Ini dibangun sudah dari 1963 bersamaan dengan perahu. Perahunya ini sekarang jadi tempat wudhu dan untuk kamar mandi,” kata Solikhin.

Keunikan berikutnya terdapat pada bagian dalam masjid. ketika masuk, terdapat sebuah fosil batu yang letaknya tidak diubah sejak dulu. “Di dalam ada empat tiang. Dua di belakang itu diberikan oleh menteri agama yang pertama yaitu Abdul Wahid Hasyim. kayu gelondongan utuh, dan buat tempat shalat imam itu fosil batu juga,” kata Solikhin.

Selain itu, tempat imam tersebut juga dihiasi dengan ukiran kaligrafi dari kayu jati. Kemudian di bagian ujung masjid terdapat sebuah ruangan berisi Al Quran berukuran 2 x 1 meter dengan ketebalan 30 sentimeter yang dikelilingi 16 batu giok koleksi sang pendiri masjid.

“Al Quran dengan sampul kayu ini ditulis oleh Ustad Amir Hamzah, penulis kaligrafi dari Madura, kurang lebih selama 30 tahun,” ujar Solikhin.

Menurut Solikhin, karena ukurannya besar,  Alquran hanya berfungsi sebagai pajangan saja. Jika ada wisatawan yang berkunjung dan ingin melihatnya penjaga akan membuka Alquran tersebut.

Keunikan berikutnya yang dijelaskan Solikhin adalah adanya emas dengan berat 3 kilogram di bagian puncak masjid. “Jadi di atas itu ada emas berukuran giwang jumlahnya 99 sesuai Asmaul Husna yang beratnya kalau ditotal 3 kilogram,” ungkap Rahmat.

Keunikan lainnya adalah sajadah untuk imam yang terbuat dari batu. Pada bagian mimbar dan dekat pintu masuk pun dihiasi oleh batu. Menurut Solikhin, batu tersebut adalah akik.

Dikatakan Solikhin, Selain sebagai tempat untuk beribadah, masjid ini pun menjalankan kegiatan-kegiatan lainnya yang berhubungan dengan pengembangan pengetahuan agama Islam, mulai dari tempat anak-anak belajar ngaji, pengajian dan zikir bersama.

Baca Juga

Back to top button