Trending Topik

Fakta Ini Terungkap Setelah TIM WHO Investigasi di Institut Virologi Wuhan terkait asal Virus Corona

Abadikini.com, JAKARTA – Badan Kesehatan Dunia (WHO) melakukan kunjungan ke laboratorium virus milik Institut Virologi Wuhan. Tim WHO mengunjungi laboratorium keamanan hayati nasional China itu untuk bertukar pikiran dengan para ahli dari institut tersebut, upaya anti-epidemi, dan kontribusi terhadap ilmiah internasional.

Laboratorium ini kerap dikaitkan sebagai sumber kebocoran virus corona SARS-CoV-2 penyebab pandei Covid-19 oleh berbagai teori konspirasi. Wakil direktur laboratorium, Shi Zhengli mengatakan awalnya ia mengaku cemas jika virus corona telah bocor dari fasilitas tempatnya bekerja.

Namun pemeriksaan lebih lanjut mengungkapkan bahwa tidak ada urutan gen yang cocok dengan virus yang dimiliki laboratorium.

“Saya tidak tidur selama berhari-hari [karena cemas jika virus corona bocor dari lab],” ujar Shi dalam sebuah wawancara dengan majalah Scientific America, Juni 2020 lalu.

Apa itu Institut Virologi Wuhan?

Institut Virologi Wuhan (IVW) adalah institusi penelitian virus yang ada di Hubei, Wuhan. IVW didirikan pada 1950.

Awalnya laboratorium canggih akan dibangun pada 2002-2003 ketika pandemi SARS melanda. Namun, baru pada 2015 institut ini berhasil mendirikan laboratorium dengan keamanan tinggi di Wuhan.

Laboratorium ini menjadi yang pertama mendapat sertifikasi biosafety level 4 di daratan China. Sertifikasi ini dibutuhkan karena laboratorium ini memang ditujukan untuk mempelajari patogen paling berbahaya di dunia. Nantinya, China berencana membangun 5-7 laboratorium serupa pada 2025.

Institusi ini telah lama menjadi pusat penelitian aktif untuk melakukan studi terhadap virus corona. Sebab, virus corona sendiri memang sudah lama dikenal dan biasanya menyerang hewan. Sebelumnya, diberitakan virus corona terbagi menjadi 7 jenis. Virus corona SARS-CoV-2 penyebab penyakit Covid-19 merupakan bagian dari salah satu jenis virus corona ini.

Proyek pertama laboratorium tersebut adalah mempelajari virus mematikan BSL-3. Virus ini menyebabkan demam berdarah Krimea-Kongo. Virus mematikan ini ditularkan melalui kutu yang mempengaruhi ternak di seluruh dunia dan yang dapat menular ke manusia.

Laboratorium ini juga memeriksa patogen penyebab SARS, Ebola, dan virus Lassa Afrika Barat, seperti dilansir Nature.

Intensif teliti kelelawar

Pada 2005, sebagian peneliti IVW mempublikasikan riset soal asal mula virus corona penyebab SARS. Mereka menemukan kelelawar jenis tertentu menjadi pembawa virus corona serupa SARS.

Penelitian berlanjut hingga 2017 untuk membuktikan bahwa virus dari kelelawar itu bisa menginfeksi manusia. Mereka menghabiskan waktu bertahun-tahun menginvestigasi kelelawar.

Pada 2018, mereka menelurkan studi soal kemungkinan penyakit dari kelelawar ini menular ke manusia. Kesimpulan ini didapat setelah memeriksa sampel darah beberapa penduduk desa dekat gua kelelawar. Ternyata sebagian penduduk desa itu memiliki antibodi atas penyakit akibat virus corona di kelelawar.

Direktur Institut Wuhan Shi Zhengli bahkan sampai mendapat julukan wanita kelelawar saking seringnya meneliti hewan satu itu. Ia telah berburu kelelawar di goa-goa China dalam 16 tahun terakhir.

Virus corona bocor dari lab?

Menurut Wang Yanyi, Direktur Institut Virologi Wuhan, mereka tak pernah menemukan virus seperti SARS-CoV-2 sebelumnya. Mereka baru menerima sampel virus itu pada 30 Desember dari rumah sakit terdekat.

“Kami belum pernah menemukan novel coronavirus sebelumnya, dan tanpa virus ini, tidak mungkin bocor dari laboratorium,” tegasnya.

Sebelumnya, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pun ikut membantah SARS-CoV-2 merupakan virus buatan manusia yang digunakan sebagai senjata biologi. Peneliti bidang mikrobiologi LIPI Sugiyono Saputra mengatakan SARS-CoV-2 tidak memiliki kesamaan gen dengan virus corona lain seperti flu, MERS hingga SARS.

“SARS-CoV-2 bukan merupakan hasil manipulasi laboratorium karena ada perbedaan pada material genetik yang esensial untuk proses infeksi, yang tidak pernah ditemukan pada virus corona,” kata Sugiyono seperti melansir dari CNN Indonesia (19/3).

Senada, peneliti imunologi dan mikrobiologi Scripps Research Kristian Andersen mengatakan analisis data sekuens genom tidak menemukan bukti bahwa virus itu dibuat di laboratorium atau direkayasa.

“Dengan membandingkan data urutan genom yang tersedia untuk strain coronavirus yang diketahui, kita dapat dengan tegas menentukan bahwa SARS-CoV-2 berasal dari proses alami,” kata Andersen melansir Science Daily.

Isu virus corona bocor dari laboratorium China kembali mencuat ketika Ahli virus China yang melarikan diri ke Amerika Serikat (AS), Li Meng Yan, menuduhkan hal itu. Namun, ia tidak menyertakan bukti studi ilmiah di balik tuduhan itu.

“Tidak ada bukti yang bisa ditemukan kalau virus ini dibuat secara genetik,” jelas Trevor Bedford, dari riset kanker Fred Hutchinson, dalam pertemuan ilmuwan di Seattle.

“Bukti yang kami miliki bahwa mutasi (virus) sangat konsisten sebagai evolusi alami,” seperti dikutip dari Financial Times.

Peran IVW saat pandemi

Tim dari laboratorium yang berada di pusat penyebaran pandemi ini berhasil jadi yang pertama mengindentifikasi, menganalisa, dan mengurutkan genetik virus corona yang mereka sebut 2019-nCoV.

Mereka lantas mempublikasikan data itu agar bisa diakses oleh para ilmuwan di seluruh dunia, seperti dilaporkan New York Times.

Baca Juga

Back to top button