Vaksin Sputnik V Buatan Rusia Terbukti 92% Efektif Cegah Covid-19

Abadikini.com, MOSKOW – Vaksin buatan Rusia Sputnik V diklaim 92% efektif mencegah Covid-19. Hal itu sebagaimana diterbitkan dalam jurnal medis internasional The Lancet.

Penilaian itu merupakan hasil uji coba Fase III (tahap akhir) yang telah dilakukan oleh para pakar dan ilmuwan Gamaleya Institute di Moskow.

Para pakar mengatakan hasil uji coba Fase III berarti dunia memiliki senjata efektif lain untuk melawan pandemi mematikan. Hasil tes ini juga secara tak langsung membenarkan keputusan Moskow meluncurkan vaksin itu sebelum data akhir dirilis.

Rusia menyetujui vaksin tersebut pada Agustus, sebelum uji coba skala besar dimulai. Itu artinya Rusia adalah negara pertama yang melakukan vaksinasi COVID-19.

Vaksin itu dinamakan Sputnik V, sebagai penghormatan kepada satelit pertama di dunia, yang diluncurkan Uni Soviet.

Sejak uji coba dimulai di Moskow, ada 16 kasus gejala COVID-19 yang tercatat di antara orang-orang yang menerima vaksin, dan 62 di antara kelompok plasebo, menurut para ilmuwan.

Ini menunjukkan bahwa rejimen dua dosis vaksin, dua suntikan berdasarkan dua vektor virus yang berbeda, diberikan dengan selang waktu 21 hari, 91,6% efektif melawan gejala COVID-19.

Vaksin Sputnik V adalah yang keempat di dunia yang hasil Fase III dipublikasikan di jurnal medis terkemuka yang ditinjau rekan sejawat setelah vaksin buatan Pfizer dan BioNTech, Moderna dan AstraZeneca.

Vaksin Pfizer memiliki tingkat kemanjuran tertinggi sebesar 95%, diikuti vaksin Moderna dan Sputnik V sementara vaksin AstraZeneca memiliki tingkat kemanjuran rata-rata 70%.

“Sputnik V juga telah disetujui untuk disimpan di lemari es biasa, bukan di freezer, sehingga membuat transportasi dan distribusi lebih mudah,” ujar ilmuwan Gamaleya.

Gamaleya Institute di Moskow yang mengembangkan dan menguji vaksin tersebut, sejalan dengan data kemanjuran yang dilaporkan pada tahap awal uji coba, yang telah berjalan di Moskow sejak September.

“Pengembangan vaksin Sputnik V telah dikritik karena tergesa-gesa yang tidak pantas, memotong di tikungan, dan tidak adanya transparansi,” ujar Ian Jones, profesor di University of Reading, dan Polly Roy, profesor di London School of Hygiene & Tropical Medicine .

“Tetapi hasil yang dilaporkan di sini jelas dan prinsip ilmiah vaksinasi telah dibuktikan,” papar para ilmuwan, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, dalam komentar yang dibagikan The Lancet.

“Vaksin lain sekarang dapat bergabung dalam perjuangan untuk mengurangi insiden COVID-19,” ujar para ilmuwan.

“Hasil itu didasarkan pada data dari 19.866 sukarelawan, seperempat di antaranya menerima plasebo,” kata para peneliti, yang dipimpin Denis Logunov dari Gamaleya Institute, dalam The Lancet.

Baca Juga

Back to top button