Indonesia Bisa Terlibat Perang di Laut Natuna Utara antara AS dengan China

Abadikini.com, JAKARTA – Konflik antara Amerika Serikat (AS) dengan China diketahui sedang memanas saat ini. Hal tersebut terjadi pada akhir Januari 2021.

Saat ini, baik AS dan China telah mengirimkan armada perangnya di Laut Natuna Utara. Negara Paman Sam tersebut telah risih dengan diawasinya pesawat-pesawat mereka dari negeri Tirai Bambu itu.

Tidak hanya pesawat tempur saja, China bahkan mengirim pesawat pengebom yang didalamnya berisi muatan nuklir.

Melihat situasi dan kondisi yang sedang memanas saat ini, Guru Besar Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran Profesor Ary Bainus menjelaskan bahwa Indonesia bisa saja berperang jadi penengah kedua negara ini yang sedang konflik di Laut Natuna Utara.

Seperti dikutip dari VOA Indonesia, Senin (1/2/2021), Ary menjelaskan bahwa pemerintah Indonesia bisa saja menjadi penengah untuk melakukan mediasi perdamaian antara AS dan China di Laut Natuna Utara.

“Indonesia punya peluang dalam rangka melakukan mediasi permusuhan antara Amerika Serikat dengan China.

“Kita bisa ambil peran di situ, terutama berkaitan dengan laut Cina Selatan,” ujarnya dalam acara bertajuk “Arah Kebijakan Presiden Amerika Joe Biden terhadap Indonesia dan Dunia,”.

Peluang tersebut cukup besar mengingat Indonesia tidaklah memiliki kepentingan di laut Natuna Utara yang terjadi sengketa.

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Syarief Hasan menjelaskan bahwa pemerintah harus cepat mengambil langkah dalam konflik kedua negara ini.

Pasalnya Syarief menyatakan bahwa konflik di Laut Natuna Utara tersebut bisa saja berubah jadi daerah perang terbuka sewaktu-waktu.

“Sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk memastikan seluruh wilayah, termasuk wilayah terluar di perairan Natuna Utara dalam kondisi aman.

Syarief menilai bahwa kondisi ini tidak boleh dianggap remeh karena China yang membuat klaim sepihak terhadap Laut Cina Selatan berdasarkan sembilan garis putus-putus atau nine dash line yang koordinatnya tidak pernah diketahui, sehingga menyebabkan Amerika Serikat dan Inggris juga turut ikut campur.

“Kondisi ini akan berpotensi menjadi perang terbuka yang berakibat fatal,” ungkap Syarief. (*)

Baca Juga

Berita Terkait
Close
Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker