Novel ke Kapolri Listyo Sigit Prabowo: Segera Keluarkan SP3 untuk Habib Rizieq Jika ingin Meraih Simpati Umat Islam

Abadikini.com, JAKARTA – Wakil Sekjen Persaudaraan Alumni 212 (PA 212) Novel Bamukmin langsung menagih janji Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, sehari usai dilantik. Dia menagih janji soal menghilangkan istilah kriminalisasi ulama.

Baca Juga

Wasekjen PA 212 Novel Bamukmin meminta agar Kapolri yang baru dilantik Jenderal Listyo Sigit Prabowo menghilangkan kriminalisasi ulama.

Novel meminta agar Listyo Sigit Prabowo bisa membuktikannya pada sejumlah kasus yang menyeret ulama belakangan ini agar dibebaskan dari penghentian penyidikan. Lanjut dia, seperti kasus yang dialami pentolan FPI Habib Rizieq, serta pendakwah Ustadz Maaher, dan Sugi Nur alias Gus Nur.

Kata Novel, Kapolri harus segera menerbitkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3).

“Kalau memang serius dengan komitmen ingin menghentikan kriminalisasi terhadap ulama, tentunya Kapolri yang baru dilantik saat ini bisa merealisasikan komitmennya,” ujar Novel seperti dikutip, Jumat (29/1/2021).

Walau awal sempat menolak, Novel kini mengaku tak mempermasalahkan agama Kapolri Listyo yang non muslim. Akan tetapi Novel berharap agar mantan Kapolda Banten itu membuat terobosan yang menjadi prioritas.

Novel Sempat Tak Sepakat Kapolri Non Muslim

Yaitu dengan memprioritaskan kasus-kasus yang kini menyeret sejumlah ulama. Baginya, Kapolri saat ini harus berani membuat terobosan tepat agar bisa meraih simpati umat Islam.

“Caranya, dengan membebaskan IB HRS, Ustadz Maheer, dan Gus Nur serta ulama lain saat ini mempunyai status belum SP3.”

Lain dulu, lain sekarang. Sebelumnya Novel Bamukmin mengaku khawatir dengan Listyo yang non muslim untuk naik mengisi posisi Kapolri. Sebab dia takut jika kalangan Islam makin tersudut dan teraniaya dengan kehadirannya.

“Bukan tidak mungkin, bisa saja Sigit kebalikan dari Kapolri yang muslim sebelumnya. Yaitu bisa menghormati dan merangkul para ulama dan umat Islam,” kata Novel.

Menurutnya, ada dilema tersendiri jika nantinya Korps Bhayangkara itu dipimpin oleh orang yang tidak mewakili agama mayoritas.

Padahal saat ini, kata dia, Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia bisa dikatakan sedang tertindas.

“Memang suatu dilema kalau sesuatu kekuasaan atau jabatan dipegang oleh orang yang tidak mewakili mayoritas,” ucap dia.

Pria yang pernah bekerja di Pizza Hut itu lantas membandingkan kondisi saat ini di mana Kapolri adalah seorang muslim. “Kapolri yang muslim, ulama dikriminalisasi bahkan terjadi pembantaian terhadap pejuang Islam yaitu 6 laskar yang dibantai. Dan ini menjadi kekhawatiran kami.”

Baca Juga

Back to top button