Diserang Isu Rasisme, Pigai Ingat Ucapan Luhut Agar Orang Papua Angkat Kaki dari NKRI

Abadikini.com, JAKARTA – Mantan komisioner Komnas HAM Natalius Pigai mengatakan, serangan rasisme terhadap dirinya merupakan hal yang biasa. Menurutnya, hal tersebut sudah terjadi sejak lama dan bahkan jutaan orang telah memperlakukannya secara diskriminatif.

Baca Juga

“Saya terus terang saja. Gini, orang yang rasis sama saya ini sudah jutaan,” kata Natalius Pigai, dikutip dari RMOL, Rabu (27/1/2021).

Pigai berujar, serangan rasis terhadap dirinya adalah konsekuensi karena menolong masyarakat kecil dari suku Jawa, Sumatera, Melayu, Sunda, Ambon dan suku lainnya.

“Jadi tantangan kita adalah mendapat kekerasan verbal. Jadi itu saya anggap dari konsekuensi pilihan yang kita ambil sebagai pembela kemanusiaan,” jelas Pigai.

Kendati dianggap biasa, serangan rasis itu diakuinya cukup menyinggung dirinya dan komunitasnya.

Perilaku rasis terhadap diriya dan masyarakat Papua, sambungnya, juga disebabkan historis politik bangsa Indonesia.

Ia lalu mengingatkan tentang sejarah bahwa Bung Hatta ketika Sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang hanya mengingikan ras Melayu sebagai warga negara Indoenesia. Minus ras Melanesia yang merupakan ras Papua.

Kemudian, mantan Kepala BIN AM Hendropriyono juga pernah mengatakan bahwa 2 juta orang Papua agar dipindahkan ke Manado.

Natalius juga menyinggung pernyataan Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Pandjaitan yang menyatakan kalau orang Papua ingin merdeka, silahkan angkat kaki dari Indonesia.

Untuk selanjutnya bergabung dengan negara-negara Melanesia yang tergabung dalam Melanesian Spearhead Group (MSG).

“Jadi apa yang diucapkan oleh orang Indonesia kepada Papua dalam konteks rasis hanyalah keinginan dari pimpinan-pimpinan nasional,” katanya.

“Ini yang kita harus kritisi cara pandang pejabat. Kita harus merubah mindset politik pemerintahan yang diskriminatif dan rasialisme,” sambungya.

Natalius Pigai juga menyebut bahwa Ambroncius Nababan dan orang-orang lainnya itu berasal dari kelompok bazzer.

“Pelakunya kelompok-kelompok buzzer. Kelompok ini yang tidak terpisahkan oleh kakak pembina dari lingkaran kekuasaan,” katanya.

“Jadi ibarat majikan melepas anjing-anjingnyanya, makanya kita harus merubah mindset majikan tersebut,” tandasnya.

Baca Juga

Back to top button