Trending Topik

WhatsApp Takut Ditinggal Masyarakat, Akhirnya Tunda Aturan Baru Hingga 15 Mei

Abadikini.com, JAKARTA – Aplikasi pesan instan WhatsApp akhinya pilih menunda pembaruan aturan kebijakan layanan dan privasi bagi penggunanya hingga 15 Mei 2021 mendatang.

Kebijakan privasi yang sebelumnya hendak di berlakukan pada 8 Februari kembali diundur. Penundaan dilakukan imbas kekhawatiran pengguna WhatsApp lari ke pengguna aplikasi lain di seluruh dunia.

Selain itu, menurut Whatsapp penundaan itu juga dilakukan untuk memberi waktu lebih panjang bagi pengguna untuk meninjau ulang tentang aturan baru mereka. Whatsapp juga menjamin tidak akan ada akun yang dihapus setelah 8 Februari, karena dilakukan penundaan pembaruan.

“Tidak ada seorang pun yang akunnya akan ditangguhkan atau dihapus pada 8 Februari. Kami juga akan melakukan lebih banyak hal untuk menjernihkan informasi yang salah tentang privasi dan keamanan di WhatsApp,” kata WhatsApp lewat blog resminya seperti dikutip, Selasa (19/1/2021).

Diketahui sebelumnya, awal Januari lalu manajemen Whatspp meminta pengugna untuk menyetujui pembaruan penggunaan layanan dan privasi. Jika pembaruan itu tak disetujui, maka pengguna tak bisa melanjutkan penggunaan pesan instan itu.

Perubahan ini banyak disalahartikan oleh pengguna bahwa komunikasi pengguna di platform itu bakal bisa diawasi. Namun, Whatspp menyanggah hal itu.

Selain itu, Whatsapp yang dibeli Facebook sejak 2014 memang telah membagikan sejumlah metadata kepada Facebook sejak 2016.

WhatsApp mengaku telah menerima masukan dan pertanyaan dari banyak pengguna bahwa pembaruan kebijakan privasi itu kurang dimengerti. Tidak hanya itu, menyebarnya misinformasi yang beredar menyebabkan kekhawatiran para penggunanya.

“Oleh karena itu, kami ingin membantu semua orang memahami prinsip kami dan fakta yang ada,” kata WhatsApp.

WhatsApp klaim ide ini merupakan sebuah ide sederhana, yakni apa yang pengguna bagikan dengan teman dan keluarga hanya diketahui oleh pengguna dan pihak penerima.

Melalui cara tersebut, WhatsApp juga mengklaim akan selalu melindungi percakapan pribadi pengguna dengan enkripsi end-to-end.

Keamanan dan kerahasiaan pengguna dinilai tidak berubah dengan adanya pembaharuan yang dilakukannya. Namun pembaruan kali ini mencakup opsi-opsi baru bagi pengguna untuk berkirim pesan dengan akun bisnis di WhatsApp.

Pembaruan itu juga bakal memberikan transparansi lebih lanjut mengenai cara WhatsApp mengumpulkan dan menggunakan data dengan akun bisnis.

“Meskipun saat ini tidak semua pengguna berbelanja dari bisnis yang ada di WhatsApp, menurut kami semakin banyak pengguna akan melakukannya di masa mendatang. Oleh karena itu, penting bagi para pengguna untuk mengetahui layanan-layanan ini. Pembaruan ini juga tidak meningkatkan kemampuan kami untuk berbagi data dengan Facebook,” katanya.

Melansir Tech Crunch, selain menimbulkan kebingungan pengguna, isu aturan baru itu juga menimbulkan potensi gugatan hukum, yang berujung pada investigasi nasional, dan mendorong jutaan pengguna untuk menggunakan aplikasi pesan instan lain.

Akibat peristiwa ini, puluhan juta pengguna di seluruh dunia beralih ke Telegram dan Signal. Beberapa pekan belaangan, Signal menjadi aplikasi terpopuler di App Store 40 negara dan 18 negara di App Store.

Sementara, pendiri Telegram, Pavel Durov menyebut hal yang tejadi pada WhatsApp ini sebagai ‘migrasi digital terbesar dalam sejarah manusia’ karena jumlah pengguna baru yang mengunduh aplikasi Telegram

WhatsApp alami penurunan unduhan telah lebih dari dua juta kali, antara 5-12 Januari 2021 dibandingkan pekan sebelumnya, menyusut menjadi 10,6 juta pengguna.

Semnatara pada periode yang sama, Signal malah mencatat unduhan baru sebanyak 17,8 juta dan 15,7 juta untuk Telegram.

Baca Juga

Back to top button