Peneliti Gempa Sebut Pemahaman Terkait Kegempaan di Sulawesi Minim

Abadikini.com, BANDUNG – Peneliti gempa dari Institut Teknologi Bandung (ITB) masih meraba-raba informasi detail perihal gempa yang mengguncang wilayah Mamuju dan Majene, Sulawesi Barat (Sulbar), Jumat (15/1/2021) lalu. Secara teknis, gempa yang terjadi merupakan bagian dari aktivitas pada sistem sesar Selat Makassar namun pemahaman terkait kegempaan itu belum memadai.

Pakar gempa ITB yang tergabung dalam Pusat Studi Gempa Nasional, Irwan Meilano menuturkan, wilayah Sulbar termasuk Mamuju dan Majene secara umum masuk dalam wilayah tektonik aktif yang memiliki potensi bencana kegempaan.

Pusat Studi Gempa Nasional menggambarkan kompleksitas geologi di kawasan tersebut dalam peta sumber gempa nasional tahun 2017 lalu. Buku itu menyatakan, ada 48 sesar di Pulau Sulawesi. Beberapa di antaranya sesar Palu Koro, sesar Matano, sesar Saddang, sesar Walanae, sesar Lawanopo, dan sesar parit-parit. Wilayah yang berada di atas sesar itu pun berpotensi dilanda gempa.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat gempa berkekuatan besar telah terjadi di Sulawesi sejak 1927. Catatan itu, antara lain, gempa dengan kekuatan 6,5 skala richter dan disusul Ttunami terjadi di sesar Palu Koro. Gempa di Sulawesi juga terjadi pada 1930, 1938, 1996, 1998, 2005, 2008, dan 2012.

“Ada yang unik (pada gempa) Majene-Mamuju. Kebanyakan gempa di Sulawesi itu (akibat aktivitas) sesar mendatar. Tapi di Majene ada potensi dan bukti kegempaan itu sesar naik,” ungkap Irwan, Minggu (17/1/2021).

Peta Sumber Gempa Nasional, ungkap Irwan, mengungkapkan ada potensi kegempaan dengan M 7 yang disebut sesar naik Mamuju. “Sekarang lebih pas disebut sesar naik Selat Makassar karena areanya luas. Kita sudah lihat fakta ada sumber gempa di sana tapi kita tidak bisa menjawab pertanyaan sederhana, seberapa sering gempa terjadi, berapa tahun sekali,” imbuh Irwan.

Ia menambahkan pengetahuan para peneliti masih terbatas hingga gempa tahun 1969 yang tidak sebanding dengan kejadian-kejadian gempa yang lebih lama periodenya.

Menyoal pernyataan Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati yang mengingatkan adanya catatan kegempaan dengan M 6,9 pada 1969 yang lebih besar dibandingkan gempa M 6,2 di lokasi sama pada Jumat, Irwan mengungkapkan, gempa susulan pasti lebih kecil guncangannya.

“Yang magnitudonya sama atau lebih besar adalah apabila gempa sebelumnya memicu gempa pada segmen yang ada di sebelahnya,” imbuhnya.

Menyangkut apakah gempa itu memicu kegempaan pada segmen lainnya, Irwan mengaku belum memiliki pengetahuan dan memahaminya.

Peneliti gempa dari Kelompok Keahlian Geofisika Global ITB, Endra Gunawan membenarkan kompleksitas kegempaan di wilayah Sulawesi, tepatnya Selat Makassar. Wilayah itu merupakan zona pertemuan Lempeng Benua Eurasia (relatif diam), lempeng Pasifik (bergerak ke barat), dan lempeng Australia-Hindia (bergerak ke utara).

“Penuh pergerakan jadi ada sesar naiknya di bagian Selat Makassar,” imbuh Endra seraya menambahkan gempa yang mengguncang Mamuju dan Majene pekan lalu akibat adanya sesar naik.

Endra menjelaskan masih banyak ketidakjelasan perihal gempa tersebut yang memerlukan investigasi lebih dalam oleh berbagai pihak. Dia merujuk pada data USGS (United States Geological Survey) serta BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) yang berbeda karena menggunakan metode pengamatan yang berbeda.

“Jadi kalau kita mengestimasi dari lokasi gempa yang (kedalaman) 18 (meter) kemudian tarik di mana titik nol sesar, itu ada di laut. Kemungkinan ada di sebuah sistem sesar Selat Makasar yang sebenarnya belum muncul di buku (Peta Sumber Gempa Nasional) itu, adanya di sisi selatan,” ujar Endra seraya menambahkan hal ini perlu diteliti lebih lanjut.

Meski secara umum, ungkap Endra, kegempaan di Sulawesi banyak dipicu oleh aktivitas sesar mendatar, bukan berarti dalam satu sistem yang sama tidak akan ada aktivitas sesar naik. Dia memberi contoh risetnya mengenai sesar Lembang di sisi utara Bandung yang mendatar dan memanjang. Namun ada segmen Sesar Cimandiri yang memiliki unsur sesar naik.

Kondisi serupa terdeteksi di Sumatera saat kejadian gempa 2013 di selatan Tangse dan gempa 2016 di Pidie. “Dua kejadian itu terjadi di daerah yang belum kita identifikasi sumbernya. Itu contoh sumber gempa kita jadikan input buat memahami sumber (gempa) baru,” imbuh Endra.

 

Sumber: BeritaSatu.com

Baca Juga

Back to top button