Trending Topik

PBNU Dukung Menag Berantas Politik Bawa Agama

Abadikini.com, JAKARTA – Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut) menyatakan dengan tegas ingin memberantas populisme Islam di Indonesia. Pernyataan itu mendapatkan sambutan dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Masduki Baidlowi mendukung penuh pencegahan populisme Islam karena dinilai berbahaya bagi kehidupan demokrasi. Ia menjelaskan populisme Islam yang dimaksud Menag Yaqut adalah politik identitas berbasis agama.

”Oh iya (PBNU mendukung),” tegas Masduki seperti dikutip dari CNNIndonesia, Selasa (29/12/2020).

“Jangan sampai politik Indonesia yang masih berkembang sebagai politik demokratis secara prosedural, berkutat pada isu-isu yang justru akan menghancurkan sistem demokrasi itu sendiri.”

Menurutnya, kelangsungan hidup demokrasi dapat dilihat dari keberhasilan pemimpin memenuhi keinginan rakyat. Dalam hal ini, tidak boleh ada unsur politik yang mengedepankan latar belakang suku, agama, maupun ras seseorang.

Selain itu, Masduki juga mengungkap berpendapat dalam demokrasi harus sesuai dengan tujuan negara dalam konstitusi. Artinya, politik identitas atau populisme Islam tidak boleh membelokkan arah demokrasi Indonesia.

Oleh sebab itu, Yaqut disarankan memberantas populisme Islam lewat bidang pendidikan. Hal itu bisa dilakukan dengan memerintahkan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam dan Direktorat Bimbingan Masyarakat Islam di Kementerian Agama untuk meningkatkan pendidikan agama.

”Karena negara ini didirikan tidak atas nama minoritas dan mayoritas. Jadi di siapapun keluarganya, sukunya, agamanya, sama di depan hukum,” tegas Masduki. “Bagaimana membangun bangsa yang demokratis lewat pendidikan. Itu saya kira paham inklusif, tidak gampang menyalahkan orang lain bahwa kita hidup dalam perbedaan.”

Sebelumnya, Menag Yaqut tidak mau populisme Islam merebak di Tanah Air. Alasannya, ia menyebut populisme Islam merupakan upaya menggiring nilai agama menjadi sebuah norma konflik yang dikhawatirkan mengganggu tatanan negara.

”Kita sekarang atau tahun-tahun belakangan ini, kita merasakan bagaimana agama itu sudah atau ada yang berusaha menggiring agama menjadi norma konflik,” tutur Yaqut dalam webinar pada Minggu (27/12). “Dalam bahasa paling ekstrem, siapapun yang berbeda keyakinannya, maka dia dianggap lawan atau musuh, yang namanya musuh atau lawan ya harus diperangi. Itu norma yang kemarin sempat berkembang atau istilah kerennya populisme Islam.”

Baca Juga

Berita Terkait
Close
Back to top button