Narapidana Kasus Terorisme Ini Menyatakan Ikrar Setia pada NKRI

Abadikini.com, JAKARTA – Narapidana kasus terorisme (napiter) menyatakan ikrar setia pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) usai lima bulan menjalani pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Jakarta. Ikrar dibacakan napiter an. Betty di hadapan Taufiqurrahman selaku Kepala Divisi Pemasyarakatan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM DKI Jakarta, Herlin Candrawati selaku Kepala Lapas Perempuan Jakarta, serta perwakilan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Detasemen Khusus (Densus) 88, Kamis (17/12/2020).

Dalam ikrar tersebut, Betty berjanji akan meninggalkan jaringan Jamaah Ansharut Daulah yang ia anut sebelumnya. “Pernyataan ini saya sampaikan atas dasar keinginan saya sendiri dan tidak ada paksaan dari pihak manapun,” kata Betty seperti dikutip dari ditjenpas.co.id, Jumat (18/12).

Ia mengatakan keyakinannya kembali pada NKRI merupakan hasil dari pembinaan yang ia terima selama menjalani masa tahanan di dalam lapas. “Selama ini banyak hal yang belum jelas sehingga pembinaan itu sangat dibutuhkan dan bermanfaat untuk saya sendiri,” ungkap Betty.

Selama berada di dalam Lapas Perempuan Jakarta, pembinaan kerohanian dan wawasan kebangsaan tidak henti-hentinya diberikan kepada Betty sebab hal tersebut dinilai mampu mengubah pandangannya terhadap ajaran yang ia anut sebelumnya. Meskipun pada awalnya sempat terjadi penolakan, pada akhirnya Betty mau menerima dan mulai mempelajari dari nol tentang wawasan kebangsaan dan keagamaan.

“Alhamdulillah, kami dapat mendampingi dengan serius dalam niat baiknya kembali kepada NKRI. Hal ini berjalan atas dukungan BNPT dan Densus 88 yang terlibat dalam pendampingan Betty,” terang Herlin.

Dengan adanya pernyataan ikrar kepada NKRI, ia mengungkapkan nantinya akan memudahkan Betty saat kembali ke masyarakat. “Dengan mengantongi pernyataan NKRI, nantinya Densus 88 akan menggalang masyarakat sekitar untuk bisa merangkul Betty agar merasakan dan benar-benar diterima di masyarakat,” tambah Herlin.

Meskipun baru pertama kali menangani napiter, Lapas Perempuan Jakarta berhasil mengubah haluan napiter untuk bisa kembali ke NKRI. “Tugas ini tidak semudah yang dibayangkan. Kami bersyukur bisa membawa Betty kembali ke dalam NKRI. Semoga ke depannya kami selalu siap dalam memberikan pembinaan kepada napiter,” harap Herlin.

Back to top button