Ilmuwan di Belanda Berhasil Temukan Organ Baru Bagian Kepala Yang Sebelumnya Tak Pernah Terlihat

Abadikini.com, JAKARTA – Ilmuwan di Belanda menemukan satu organ baru yang belum pernah terlihat sebelumnya di tubuh manusia. Organ itu terletak di bagian kepala, tepatnya di persimpangan hidung dan tenggorokan. Para ilmuwan menemukan suatu kelenjar saat pemindaian lanjutan di rongga hidung terhadap pasien kanker prostat. Ada dua struktur datar dan kurus yang secara aneh tampak seperti kelenjar ludah.

“Orang memiliki tiga set kelenjar ludah, tapi tidak di sana. Sejauh yang kami tahu satu-satunya kelenjar ludah atau mukosa di nasofaring berukuran kecil secara mikroskopis, dan hingga 1.000 tersebar merata di seluruh mukosa. Jadi bayangkan betapa terkejutnya kami ketika menemukan ini,” kata ahli onkologi radiasi Wouter Vogel dalam siaran persnya.

Pembedahan mayat yang dilakukan mengungkap bahwa strukturnya memang mirip dengan kelenjar ludah yang diketahui terletak di bawah lidah, telinga, dan belakang rahang.

Melalui studi baru yang terbit dalam jurnal Radioterapi dan Onkologi ini, Vogel bersama rekannya mengusulkan nama organ baru itu “kelenjar tubarial”. Hal ini berdasarkan kedekatannya dengan benjolan yang dikenal sebagai torus tubarius. Seperti dikutip dari Business Insider, Rabu (28/10/2020).

Ia mengatakan orang yang menjalani radiasi untuk mengobati kanker kepala dan leher terkadang mengalami mulut kering atau kesulitan menelan. Dalam analisisnya terhadap 723 pasien yang menerima radiasi lebih di area kelenjar tubarial akan mengalami efek samping.

Sementara David Gudis, otolaryngologist di Columbia University Irving Medical Center dan tidak terlibat dalam penelitian itu, mengatakan penemuan kelenjar ini memberikan batas baru yang menarik untuk penelitian telinga, hidung, dan tenggorokan. Kelenjar tersebut terletak di area yang dapat menjadi sumber masalah sinus dan telinga kronis pada anak-anak dan orang dewasa.

Anak-anak lebih rentan terkena infeksi telinga kronis di area ini. Sedangkan orang dewasa mungkin akan mengalami disfungsi tuba eustachius. Penelitian lebih lanjut diharapkan dapat mengarah pada intervensi terapeutik baru.

“Saya kira ini sebagai pengingat bahwa hal-hal sederhana seperti anatomi dasar manusia masih menyisakan banyak teka-teki untuk diungkap dan dipecahkan,” kata Gudis.

Baca Juga

Berita Terkait
Close
Back to top button