Israel Berantakan di Tengah Pandemi Covid-19

Abadikini.com, TEL AVIV – Pandemi virus corona (covid-19) membuat pemerintah Israel dilanda kepanikan hebat. Pemerintah Israel pun memutuskan memperketat lockdown gara-gara lonjakan kasus infeksi corona meningkat tajam.

Dilansir dari Worldometers, Jumat (25/9), kasus virus corona di negara zionis itu berjumlah 212.115.

Kasus baru yang muncul bertambah 7.425. Sementara itu, pasien yang meninggal berjumlah 1.378.

Israel sendiri kembali memberlakukan lockdown pada 18 September 2020.

Namun, lonjakan kasus yang mencapai lebih dari tujuh ribu setiap hari membuat pemerintah kelabakan.

Sumber daya di beberapa rumah sakit pun sangat terbebani. Hal itulah yang membuat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memperketat lockdown.

“Jika tidak mengambil langkah segera dan sulit, kita akan mencapai ujung jurang,” kata Netanyahu dalam sambutan publik kepada kabinet, Kamis (24/9).

Peraturan baru mengharuskan semua bisnis dan tempat kerja ditutup selama dua pekan.

Aturan tersebut berlaku mulai Jumat (25/9). Namun, peraturan itu tidak berlaku bagi bisnis dan tempat kerja yang dianggap sangat vital.

Di sisi lain, keputusan Netanyahu memperketat lockdown mendapatkan tentangan dari beberapa tokoh.

Di antaranya ialah Menteri Keuangan Israel Katz dan Gubernur Bank of Israel Amir Yaron.

Berdasarkan perhitungan Kementerian Keuangan, kerugian yang ditimbulkan dari lockdown terbaru mencapai 35 miliar shekel atau sekitar Rp 151 triliun.

Kerugian sebesar itu akan membuat Israel makin rontok. Sebab, saat ini Israel sudah berada di dalam resesi.

Tingkat pengangguran di Israel saat ini sudah di atas sebelas persen. Peraturan baru juga mengharuskan sekolah ditutup.

Namun, pemerintah tetap memperbolehkan sinagoge dibuka pada Yom Kippur, Hari Pendamaian Yahudi, minggu depan.

Pemerintah sendiri akan membatasi jumlah jemaah yang mengikuti Yom Kippur.

Keputusan pemerintah membuka sinagoge tidak terlepas dari protes yang dilayangkan partai-partai agama.

Mereka menentang keras apabila sinagoge ditutup. Di sisi lain, kinerja pemerintahan Netanyahu terus mendapatkan sorotan tajam.

Survei yang diterbitkan Israel Democracy Institute, Rabu (23/9) menunjukkan hanya 27 persen warga Israel yang memercayai kinerja Netanyahu menangani pandemi virus corona (covid-19).

Netanyahu makin tertekan karena dianggap melakukan korupsi. Ribuan pengunjuk rasa pun terus melakukan aksinya setiap pekan.

sumber: Genpi

Baca Juga

Berita Terkait
Close
Back to top button