Prof HM Daud Ali Guru Besar UI Pendiri PBB, Namanya Diabadikan di Mushola Kampus FHUI

PROF. H. MUHAMMAD DAUD Ali SH berasal dari Aceh. Ia dikenal sebagai cendekiawan muslim yang terjun di bidang dawah dan keilmuan. Semasa hidupnya ia menjadi Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI). Ia pakar Hukum Islam. Ia menulis buku tentang Islamic Law.

Ketika Mohammad Natsir menjadikan kampus sebagai pilar dawah, selain masjid dan pesantren, Daud Ali termasuk yang terlibat di dalamnya. Ia bersama dosen UI dan perguruan tinggi lain termasuk yang dibina Natsir untuk mendukung gerakan dawah di kampus itu. Ia sedemikian aktif, baik sebagai dosen yang memberikan kuliah tentang hukum Islam, maupun dalam melakukan aktifitas dawah di lingkungan kampus UI.

Berdirinya masjid kampus di UI, seperti Masjid Arif Rahman Hakim di Salemba, Daud Ali terlibat di dalamnya. Ia bersama dosen lainnya yang dekat dengan Natsir berusaha menjadikan masjid kampus sebagai pusat aktifitas dawah dan pendidikan kepemimpinan ummat. Ketika masjid Ukhuwah Islamiyah (UI) di kampus UI Depok dibangun, ia bersama teman teman dosen aktifis dawah, dibantu Dewan Dawah, terlibat dalam pembangunannya. Ia pun sempat menjadi Ketua Pengurus kedua Masjid tersebut.

Kedekatannya dengan M. Natsir, tokoh Masyumi, membuat Daud Ali kerap berkomunikasi dan mengikuti rapat rapat bersama Ketua Umum Dewan Dawah itu. Ia biasa hadir di Lembaga Islam untuk Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (LIPPM) tempat Natsir berkantor, selain di markas Dewan Dawah, Jl. Kramat 45, Jakarta Pusat (Jakpus).

Ketika Dr. Anwar Harjono SH menjadi Direktur LIPPM menggantikan Dr. Deliar Noer, Daud Ali turut membantunya. Ia sebagai tempat konsultasi para peneliti LIPPM. Di lembaga ini tempat berkumpulnya para aktifis mahasiswa Islam, diantaranya Sahar L. Hassan, Ramli Hutabarat, Yusril Ihza Mahendra dan lain lain.

Sesudah Anwar Harjono menjadi Ketua Umum Dewan Dawah, melanjutkan kepemimpinan M. Natsir, Daud Ali duduk sebagai anggota pleno. Demikian pula pada kepemimpinan H. Afandi Ridwan, yang menggantikan Anwar, ia masih sebagai anggota pleno. Hingga Drs. KH. Cholil Badawi menjadi Ketua Umum Dewan Dawah menggantikan Afandi, ia masih sebagai anggota pengurus.

Pada saat Anwar Harjono membentuk BKUI, nama Daud Ali tidak masuk dalam jajaran pengurusnya. Selain ia berstatus dosen PNS (Pegawa Negeri Sipil), juga sibuk sebagai guru besar UI. Di samping itu ia bukan aktifis pergerakan, tapi cendekiawan muslim yang bidangnya berkaitan dengan ilmu pengetahuan.

Mushola Prof. HM Daud Ali SH Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Foto: Istimewa

BKUI berhasil membentuk Partai Bulan Bintang (PBB) pada 17 Juli 1998. Selain tokoh-tokoh Masyumi yang masih hidup, seperti Anwar Harjono, M. Soleiman, KH. Rusyad Nurdin, H. Afandi Ridwan, KH. Hasan Basri dan Cholil Badawi yang ikut menanda tangani dan sebagai deklaratornya. Juga dari kalangan cendekiawan muslim binaan tokoh Masyumi, diantaranya Daud Ali. Iapun ikut menjadi salah satu deklarator berdirinya PBB.

Keikut sertaannya sebagai pendiri PBB karena komitmennya pada Islam dan perjuangan politik Masyumi. Hubungan baiknya pada tokoh-tokoh Masyumi membuat dirinya tidak alergi apalagi anti politik Islam seperti ilmuwan muslim lainnya. Kedekatannya dengan Anwar Harjono membuatnya terdorong untuk ikut terlibat dalam mendirikan PBB sebagai penerus Masyumi.

Daud Ali sendiri dosen PNS tidak bisa terlibat dalam kepengurusan PBB. Ia fokus di bidangnya sebaga Guru Besar Hukum Islam di Fakultas Hukum UI. Namun ia tetap mengikuti perkembangan PBB dari luar. Apalagi Yusril Ihza Mahendra adalah salah seorang mahasiswanya di FH UI, sebagai Ketua Umum DPP PBB. Ia merasa bangga partai Islam penerus Masyumi dipimpin alumni FH UI. Kehadirannya sudah cukup dipandang mewakili dirinya yang tidak bisa aktif dalam PBB.

Kesibukannya di kampus UI tak memungkinkannya untuk mengurus kegiatan yang lain, apalagi partai politik. Termasuk usianya yang semakin bertambah sepuh, sehingga mustahil dapat berkecimpung dalam dunia politik. Meskipun demikian ia masih sempat memberikan kontribusinya pada partai. Walau hanya mencatatkan nama sebagai penanda tangan berdirinya PBB. 4 bulan setelah PBB berdiri Prof. H. Muhammad Daud Ali SH berpulang kerahmatullah tepatnya pada 6 Oktober 1998. Namanyapun diabadikan di Mushola kampus Fakultas Hukum UI Depok. (MK.6.8.2020)

Oleh: Muhsin MK

Baca Juga

Back to top button