AS Babak Belur Dihajar Virus Corona Selama 4 Bulan Telah Tewaskan 150 Ribu Orang

Abadikini.com, WASHINGTON DC – Amerika Serikat (AS) setelah kurang lebih 4 bulan belakangan ini di serang wabah virus asal Wuhan, China, bernama virus corana (Covid-19) makin keteteran dan babak belur.

Pasalnya jumlah kematian akibat wabah Covid-19 di Amerika Serikat kini telah melampaui angka 150.000, Rabu (29/7/2020) waktu setempat.

Tonggak kelabu ini diraih setelah angka kematian per hari terus memecahkan rekor sejak dimulainya musim semi.

Melansir dari CNN, Korban jiwa virus corona pertama di AS dilaporkan pada 29 Februari, dan 54 hari kemudian (23 April) sudah 50.000 orang lebih meninggal. Dalam 34 hari, atau 27 Mei, angka ini melesat menjadi 100.000. Dibutuhkan 63 hari untuk mencapai level 150.000 sekarang ini.

Korban jiwa di AS mencakup lebih dari 20 persen korban jiwa global yang tercatat sebanyak 662.000 orang, menurut data Johns Hopkins University.

Sejumlah negara bagian mencatat rekor kematian per hari. California kemarin melaporkan 197 korban jiwa, melampaui rekor sebelumnya 159 pekan lalu. Di Florida, 216 pasien Covid-19 meninggal hari Rabu saja.

Secara nasional, rata-rata kematian per hari di atas 1.000 dan di 29 negara bagian tingkat kematian per hari naik di atas 10% dibandingkan pekan sebelumnya.

Selain itu, tingkat hunian rumah sakit sudah berada pada atau mendekati level puncak, meskipun jumlah kasus baru sedikit turun.

Jumlah kasus mulai meningkat sejak kegiatan usaha mulai dibuka lagi dan aturan jaga jarak diperlonggar.

“Tidak seperti banyak negara lain di dunia, Amerika Serikat saat ini tidak dalam posisi untuk bisa mengendalikan epidemik ini. Sekarang waktunya untuk mulai dari awal lagi,” demikian kutipan dari laporan Pusat Kesehatan Johns Hopkins University.

Laporan itu juga berisi sejumlah rekomendasi termasuk kewajiban memakai masker, upaya pemerintah federal untuk meningkatkan tes diagnostik, dan instruksi untuk tinggal di rumah. Pertemuan massa di dalam ruangan harus dibatasi, dan negara bagian harus menghentikan aktivitas yang berisiko.

Sistem uji diagnostik harus dibuat efisien dan andal, karena kalau tidak upaya menghentikan epidemik ini akan sia-sia, menurut laporan tersebut.

Pemerintah federal disarankan untuk berkolaborasi dengan pemerintah negara bagian dan laboratorium swasta guna mengatasi hambatan pengujian massal.

Baca Juga

Back to top button