Gegara Tunggakan Rumah Sakit ke Perusahaan Farmasi Rp3 Triliun, Tiga Ribu Karyawan Dirumahkan

Abadikini.com, JAKARTA – Ketua Umum Gabungan Perusahaan (GP) Farmasi F Tirto Kusnadi menyebutkan sejumlah perusahaan farmasi alami kesulitan arus kas keuangan mereka karena banyak rumah sakit yang menunggak pembayaran obat-obatan.

Menurutnya, hingga kini total tagihan ke fasilitas kesehatan (faskes) yang belum dibayarkan dan telah jatuh tempo mencapai Rp3 triliun.

“Rumah sakit-rumah sakit ini melakukan pemunduran pembayaran yang demikian besar, yang tadinya, maaf kami selalu menganggap BPJS yang tidak bayar,” ujar F Tirto Kusnadi dalam webinar yang digelar Bappenas, Rabu (29/7/2020).

Kusnadi menjelaskan, tagihan tertunggak atas biaya pembayaran obat-obatan tersebut tidak hanya berasal dari tahun ini sajatapi juga tahun lalu. Bahkan tegas dia, mayoritas rumah sakit yang menunggak tersebut merupakan milik pemerintah.

Sehingga terang Kusnadi, menyebabkan distributor kesulitan melayani rumah sakit yang masih mempunyai tunggakan pembayaran besar. Selain itu tutur dia, pembayaran ke perusahaan farmasi juga menjadi mundur.

“Kami mendengar BPJS telah membayar kepada faskes-faskes itu terutama rumah sakit pemerintah sampai dengan Juli,” jelasnya.

Lanjut Kusnadi, selain masalah tagihan pembayaran yang tertunggak, cash flow perusahaan farmasi juga terganggu selama pandemi covid-19 lantaran turunnya permintaan obat-obatan sebesar 50 persen hingga 60 persen. Penyebabnya, tegas dia, kunjungan pasien ke rumah sakit dan fasilitas kesehatan berkurang drastis selama pandemi.

Dikatakanya, berdasarkan catatan GP Farmasi, pemesanan obat-obatan rumah sakit hanya mencapai 30 sampai 40 persen dari rencana kebutuhan obat pada semester pertama 2020. Menurutnya, mayoritas faskes yang mengurangi pemesanan adalah rumah sakit umum milik pemerintah terutama yang ada di bawah koordinasi Kementerian Kesehatan.

“Kami berharap di semester pertama bisa sampai 50 persen, tapi hanya sampai 30-40 persen,” ucap Kusnadi.

Penurunan penjualan tersebut juga membuat kapasitas produksi perusahaan farmasi menjadi idle dan utilitas produksi perusahaan farmasi kurang dari 50 persen dalam 3 bulan terakhir.

“Imbasnya mulai terjadi PHK pegawai atau merumahkan karyawan. Diprediksi dua ribu sampai tiga ribu karyawan sudah dirumahkan,” pungkasnya.

Baca Juga

Back to top button