Kisah Dokter Sugih, Rawat 190 Pasien COVID-19 Sendiri, Intensif Belum Cair hingga Tak Bisa Beli Susu untuk Anak

Abadikini.com, MAKASSAR – Kasian, kisah seorang dokter di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, merawat 190 pasien positif Covid-19 seorang diri selama 6 pekan. Selama bekerja sang dokter tersebut belum menerima insentif dari pemerintah hingga akhirnya tak punya uang untuk membelikan susu untuk anaknya.

Dia adalah, Dokter Sugih Wibowo (37). Beliau tergabung dalam program Duta Wisata Covid-19 Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

Dokter Sugih merupan satu-satunya dokter yang ditugaskan Dinas Kesehatan Kabupaten Maros, Sulsel, untuk menangani pasien di Hotel Harper Makassar yang dijadikan sebagai lokasi karantina.

Petugas medis asal Puskesmas Camba ini merawat sekitar 190-an pasien positif dan orang tanpa gejala (OTG) di hotel tersebut selama satu bulan lebih. Namun hingga kini insentif yang dijanjikan pemerintah tak kunjung cair. Bahkan dia tak bisa membelikan uang untuk susu anaknya.

“Sabar ya Nak, belum bisa ayah pulang,” kata Dokter Sugih saat video call dengan istri dan anaknya yang masih berusia tiga bulan seperti dikutip, Ahad (5/7/2020).

Dokter Sugih menuturkan awal mulanya sekedar sukarela ingin membantu penanganan pasien Covid-19 di Kabupaten Maros dan Kota Makassar.

Namun, Setelah dua pekan ditugaskan, tidak ada dokter pengganti untuk menjadi relawan baru.

Sehingga dia pun bersedia untuk melanjutkan tugasnya selama dua pekan ke depan. Jaminannya dia mendapat insentif Rp200.000 per hari. Kemudian dia kembali mendapatkan surat tugas ketiga tanpa ada pemberitahuan ulang.

“Saya di sini sudah hampir enam pekan. Bertugas sendiri, 24 jam standby. Saya hanya tidur paling lama empat jam sehari, karena selalu ada tindakan kepada para peserta (pasien) di sini,” ujarnya.

Kasian, selama bertugas, kata dia, belum ada uang sepeser pun dari intensif Rp200rb yang diterima. Sementara keluarga di rumah selalu menanti insentif tersebut untuk keperluan harian dan membeli susu anak.

“Alhamdulillah, saya belum dapat (insentif). Masalahnya itu orang di rumah, setiap kali bertanya, saya sangat sedih menjawabnya. Saat saya bilang ‘sabar’ keluarga pun membalas kalau sabar itu tidak bisa dipakai untuk beli susu,” ujar dia.

Meskipun demikian, darinya merasa bersyukur karena ada kerabat dan teman-teman yang memberikan bantuan, sehingga ada uang sementara yang dipakai makan oleh keluarga dan membeli susu anak. Sang Dokter pun berharap kepada pemerintah agar insentif yang dijanjikan segera cair.

“Tolong kepada pemerintah, baik pusat maupun daerah agar segera merealisasikan apa yang telah janjikan kepada tenaga kesehatan. Mereka juga punya keluarga yang butuh makan setiap hari,” harap Dokter Sugih mengakhiri keterangannya kepada media setempat.

Topik Berita

Baca Juga

Back to top button
Close