Angka Kematian COVID-19 Jatim Tinggi, Wagub Emil Duga Penyakit Komorbid jadi Salah Satu Faktor

Abadikini.com, SURABAYA – Kasus Penularan wabah virus corona (COVID-19) di Indonesia masih terus terjadi dengan intensitas tinggi.

Berdasarkan data pemerintah pada, Jumat (26/6/2020), kemarin tercatat, terjadi penambahan kasus baru COVID-19 sebanyak 1.240 kasus.

Salah satu daerah yang angka kasusnya dengan insensitas tinggi adalah Provinsi Jawa Timur penambahan 356 kasus dalam sehari.

Berdasarkan data di infocovid19 Jatim per hari ini, Sabtu, 27 Juni 2020 pukul 12.00 WIB yang dikutip redaksi Abadikini.com, tercatat 10.886 kasus positif Covid-19.

Sementara angka kematian warga Jatim akibat COVID-19 mencapai 815 kasus. Tingginya angka kasus kematian ini pun diakui oleh Wakil Gubernur Jatim Emil Dardak menjadi fokus pemerintah daerah untuk saat ini.

Emil menduga penyakit komorbid jadi salah satu faktor yang bikin kasus kematian warganya di Jatim tinggi akibat terinfeksi COVID-19.

“Angka kematian Covid-19 di Jawa Timur ini tinggi sekali dan menjadi concern kami. Bukan hanya angka positifnya yang tinggi, tapi angka kasus kematiannya juga. Salah satu yang kita khawatirkan adalah banyak pasien komorbid,” kata Emil, Sabtu (27/6/).

Menurut Emil, BPJS Kesehatan memiliki data terkait penduduk dengan penyakit komorbid. Data tersebut sudah diberikan ke pemerintah daerah agar penduduk yang memiliki komorbid mendapatkan perhatian lebih. Tentunya data digunakan dengan berhati-hati karena sangat privat.

“Kami berharap dengan monitoring ekstra terhadap penduduk yang punya komorbid, mereka bisa dihindari dari risiko terkena COVID-19. Kami tanya dia kerjanyaa apa, kerja di tempat berisiko enggak, kalau iya, kami advokasi ke tempat kerjanya supaya tidak kerja dulu misalnya,” ujarnya.

Lanjut Emil, langkah tersebut penting karena kelompok dengan kategori rentan seperti penyakit komorbid, ibu hamil, dan lanjut usia harus terus diawasi. Masalah lainnya, masih banyak penduduk yang tidak sadar bila dirinya memiliki komorbid. Sebab merasa usianya masih muda dan tubuh sehat.

“Sudah saatnya aware karena bahkan usia 30-an pun sudah ada bakat-bakat komorbid, diabetes, hipertensi, dan sebagainya. Ini kami coba punya program namanya Posbindu, basically ingin mengajak yang muda-muda mulai ngecek ada enggak risiko komorbid, lifestyle apa yang harus diubah supaya bisa menyikapi, karena banyak yang enggak aware,” imbuhnya.

Dia menambahkan, dari data BPJS yang diterima hanya tinggal satu kabupaten atau kota, kata Emil, yang belum memiliki data jejak kesehatan warganya dari BPJS.

“Dari seluruh kabupaten kota, tinggal satu [kabupaten/kota] yang belum tanda tangan [kerja sama dengan BPJS terkait data ini]. Dan ini PR kita karena di daerah itu justru angkanya tinggi,” tukasnya.

Topik Berita

Baca Juga

Back to top button
Close