Trending Topik

Cerita Ustadz Tengku Zulkarnain Hampir Menjadi Kader PDIP

Abadikini.com, JAKARTA – Wakil Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ustadz Tengku Zulkarnain bercerita mengapa saat pilpres kemarin ogah dukung Jokowi lebih memilih Prabowo Subianto.

Pria yang akrab disapa Tengku Zul itu membeberkan bahwa ia tak dukung Jokowi lantaran ada PDIP dibelakangnya.

“Kalau Kyai Maruf jadi presiden saya tim kampanyenya, pakai duit saya,” kata Tengku Zul saat menjadi narasumber tayangan kanal YouTube Refly Harun Senin, (22/6/2020).

Tengku Zul mengatakan seandainya saat itu Jokowi wafat, maka secara otomatis Kyai Maruf yang jadi presiden dan tentu ia akan mendukungnya secara penuh.

“Tapi ada Jokowi di situ ya separuh-separuh. Kalau Jokowi wafat Kyai Maruf jadi presiden, baru saya banyak membantu. Tapi kalau salah tetap kritik,” ucap Tengku Zul.

Mendengar pernyataan Tengku Zul itu, Refly Harun tampak sedikit kaget, “Wah ini pernyataan keras, nih.”

Tengku Zul berujar bahwa ia telah mengenal dekat sama Kyai Maruf, bahkan menurutnya saat di MUI Kyai Maruf merupakan atasannya dan panutannya.

“Saya memang begitu sama Kyai Maruf, saya kalo sama Kyai Maruf tanpa risau. Saya bergaul 22 tahun sama Kyai maruf beliau ketua umum, saya wakil sekjend,” kata Tengku Zul.

Hal utama yang membuat tak cocok dengan Jokowi kata Tengku Zul lantaran ada PDIP sebagai partai pengusung.

“Tetapi saya enggak mau sama Pak Jokowi, karena di belakang Pak Jokowi siapa? Saya enggak cocok. Ada PDIP di situ kan saya enggak cocok,” jelas Tengku Zul.

Tengku Zul merasa kecewa dengan PDIP soal UU pendidikan dan UU pornografi menurutnya kader partai berlogo banteng tersebut malah walkout bukannya ikut berkontribusi wakil rakyatnya.

“Coba UU pendidikan, Bang Rafly masih ingat pasal 12 a, tiap-tiap anak didik berhak mendapat pendidikan agama, sesuai agama yang dianutnya, dengan diajarkan guru yang seagama yang dianutnya. Ini kok walkout,” ujar Tengku Zul.

Lantas Tengku Zul bercerita saat almarhum Taufiq Kiemas yang tak lain adalah suami dari Megawati Soekarnoputri yang memintanya saat itu untuk menjadi kader dan sekaligus caleg PDIP.

Atas permintaan dari Taufiq Kiemas kala itu Tengku Zul sedikit merenung bergabung atau tidak ya, dan akhirnya ia memutuskan tidak jadi bergabung.

“Waktu itu ditawari jadi DPR RI dari PDIP, saya bilang saya enggak mau karena kalian cenderung sekuler. Taufiq Kiemas bilang gini, “kapan PDIP jadi hijau kalau alim ulama enggak mau datang ke PDIP?”” kata Tengku Zul menirukan ucapan Taufid Kiemas.

Tengku Zul menambahkan saat itu ia meminta kepada Taufiq Kiemas untuk merubah PDIP menjadi parpol hijau, jika sudah berubah ia akan masuk menjadi kader.

Kendati demikian Tengku Zul merasa khawatir sebab jika PDIP tak putar haluan menjadi parpol hijau, maka ia yang akan berubah haluan menjadi merah.

“Saya bilang begini lah, “Bang, jadikan dulu PDIP jadi hijau, baru saya masuk. Saya khawatir kalau saya masuk bukan PDIP yang jadi hijau tapi saya yang jadi merah,” pungkasnya.

Baca Juga

Back to top button
Close