Donald Trump Disebut Minta Bantuan China untuk Pemenangan di Pilpres 2020

Abadikini.com, NEW YORK – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump disebut membujuk Presiden China, Xi Jinping untuk membantu memenangkan dirinya kembali di pemilihan presiden (Pilpres) Amerika Serikat pada November 2020 mendatang.

Tuduhan itu dilontarkan oleh mantan Penasihat Keamanan Nasional AS, John Bolton dalam bukunya berjudul “The Room Where It Happened” yang akan dirilis pada 23 Juni 2020 nanti.

Dalam buku itu, Bolton menyebut Donald Trump menyanjung kemampuan ekonomi Tiongkok dan menawarkan produk pertanian AS berupa kacang kedelai dan gandum kepada Negeri Tirai Bambu itu yang disebutnya dapat memuluskan langkah Trump maju ke periode selanjutnya.

Penawaran tersebut, menurut Bolton, terjadi saat pertemuan Trump dengan Xi Jinping pada KTT G20 di Osaka, Jepang, Juni 2019 lalu.

“Saya kesulitan mengidentifikasi keputusan Trump yang signifikan selama bergabung di Gedung Putih. Semua keputusan didorong untuk kepentingan pemilihan ulang,” ujar Bolton, dikutip dari AFP, Kamis (18/6/2020).

Menurut Bolton, untuk memuluskan langkahnya itu Trump disebut mendukung otoritas China untuk membangun kamp konsentrasi terhadap etnis minoritas Muslim Uighur.

Padahal terang Bolton, sebelumnya Trump menjadi salah satu pemimpin dunia yang paling menentang pembangunan kamp konsentrasi dan menyebut pemerintahan China telah melakukan pelanggaran HAM terhadap umat Muslim Uighur.

“Dalam pertemuan penting dengan Xi Juni lalu, Trump secara menakjubkan mengalihkan pembicaraan ke pilpres AS, menyinggung kemampuan ekonomi Tiongkok untuk mempengaruhi kampanye yang sedang berlangsung. Dia memohon kepada Xi untuk memastikan dia menang,” kata Bolton dalam bukunya itu.

Buku yang rencananya akan dirilis pada masa kampanye itu mendapat komentar dari pesaing politik Trump, Joe Biden. Menurut mantan Wakil Presiden AS itu, apabila tuduhan Bolton benar adanya, maka Trump sudah mengkhianati tugasnya sebagai presiden.

“Itu tidak hanya menjijikkan secara moral, itu merupakan pelanggaran terhadap tugas suci Donald Trump kepada rakyat Amerika untuk melindungi kepentingan Amerika dan mempertahankan nilai-nilai kita,” kata Joe.

Dalam suatu wawancara dengan Wall Street Journal, Trump mencap Bolton sebagai seorang pembohong yang telah menyebar fitnah pada bukunya. Namun, dalam wawancara lainnya, Trump juga mengecam tindakan Bolton karena telah memuat rahasia negara dalam karyanya tersebut.

Namun, Bolton menepis tuduhan-tuduhan Donald Trump tersebut. Saat ini, pemerintahan Trump diketahui tengah mencegah perilisan dan peredaran buku terbaru Bolton.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, yang dikutip China Global Television Network (CGTN), Zhao Lijian menegaskan kalau Tiongkok telah menerapkan prinsip non-intervensi terkait urusan internal negara lain.

“Kami tidak punya niat dan tidak akan mencampuri urusan internal AS dan pemilihan presiden,” ujar Zhao pada konferensi pers di Beijing, Kamis (18/6/2020).

Topik Berita

Baca Juga

Berita Terkait
Close
Back to top button
Close