Uni Eropa Minta Platform Teknologi Lebih Gencar Lagi Lawan Hoaks Covid-19

Abadikini.com, JAKARTA -Uni Eropa meminta perusahaan teknologi seperti Google, Twitter dan Facebook untuk melawan penyebaran berita palsu tentang virus Covid-18 di platform mereka.

“Pandemi virus corona telah disertai dengan informasi yang salah secara besar-besaran,” kata kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Josep Borrell, pada konferensi pers di Brussels, Rabu (10/06).

“Disinformasi pada masa virus corona dapat membunuh,” sambungnya.

“Kami memiliki kewajiban untuk melindungi warga negara kami dengan menyadarkan mereka akan informasi yang salah – dan mengekspos para aktor yang bertanggung jawab dan terlibat dalam praktik semacam itu.”

Untuk mencegah berita bohong dan meningkatkan kesadaran pengguna akan propaganda, Uni Eropa akan meminta platform media sosial untuk memberikan laporan bulanan tentang tindakan mereka dalam menangani berita bohong dan data iklan yang berhubungan dengan itu.

Platform media sosial juga akan diminta untuk lebih banyak bekerja sama dengan pemeriksa fakta independen dan melakukannya dalam bahasa masing-masing negara anggota Uni Eropa.

“Kami hanya tahu sebatas apa yang disampaikan pihak platform,” kata Vera Jourova, wakil presiden Uni Eropa untuk nilai-nilai dan transparansi. “Ini belum cukup, Platform harus terbuka.” ujarnya.

Jourova mengatakan Google telah menghapus 80 juta iklan terkait COVID-19 yang jelas mengandung informasi palsu. Tetapi, katanya, tidak ada angka pasti tentang kerusakan kesehatan masyarakat yang disebabkan oleh penyebaran berita bohong sejauh ini.

Selain itu, Uni Eropa juga memperkenalkan sebuah kode etik secara sukarela untuk melawan disinformasi pada Oktober 2018. Jourova, yang kala itu menjabat komisioner untuk keadilan, konsumen dan kesetaraan gender di Uni Eropa sempat menyatakan keraguannya terkait peraturan yang sifatnya mengikat ini.

Meski begitu, Google, Facebook, Twitter, dan Mozilla akhirnya menyepakati aturan tersebut sebelum akhir tahun 2018. Setelahnya, Microsoft juga turut bergabung pada Mei 2019, dan TikTok sekarang juga ikut serta. Namun, Uni Eropa masih bernegosiasi dengan pihak WhatsApp. Dari laporan bulanan yang diberikan sejak Januari 2019, tampaknya perusahaan-perusahaan teknologi telah menghapus 70% berita bohong dari konten yang diposting.

Baca Juga

Back to top button