Kisah Petugas Pemakaman Jenazah Covid-19 di TPU Pondok Rangon

Abadikini.com, JAKARTA – Kejadian sebulan lalu masih terbayang di benak Imang, 46, seorang petugas pemakaman di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pondok Rangon, Cipayung, Jakarta Timur.

Pada 16 Maret lalu, Imang bersama beberapa rekannya diselimuti rasa takut ketika mendengar kabar harus memakamkan salah satu jenazah yang meninggal akibat virus corona (Covid-19).

Kala itu, Imang dan tujuh rekannya yang sedang bertugas panik. Pasalnya, diakui Imang, kala itu mereka benar-benar tak dibekali tata cara memakamkan jenazah yang terpapar wabah yang telah membuat geger semua negara di dunia ini.

Takut, tentu saja, tanpa pengetahuan apapun tentu Imang merasa takut akan terpapar virus dari jenazah yang dia kuburkan.

“Tapi mau bagaimana, kan kewajiban juga. Kalau tidak dikubur bagaimana,” kata Imang mengawali ceritanya kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu, seperti dilansir Abadikini, Selasa (21/4/2020).

Kekhawatiran Imang pun sedikit terobati ketika beberapa petugas dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta mendatangi para petugas pemakaman ini. Imang dan rekannya diberi beberapa instruksi terkait prosedur pemakaman jenazah korban corona tersebut.

Tak hanya itu, Imang juga mengaku diberi beberapa Alat Pelindung Diri (APD) sendiri untuk dipakai kala memakamkan jenazah.

“Untungnya ambulans yang dari Dinkes itu, yang bawa mayit-nya itu kasih kita penjelasan, terus kita dikasih masker, sepatu bot, sarung tangan. Keperluan lah,” kata Imang.

Tentu saja, kejadian 16 Maret itu bukan yang terakhir. Setelahnya hampir setiap hari dia dan timnya harus menggali kubur sekaligus mengurusi pemakaman jenazah korban wabah corona ini. Setiap hari, hingga dia sendiri mengaku sudah tak bisa menghitung berapa banyak jenazah yang dia kuburkan.

Keluarga hanya boleh menyaksikan pemakaman jenazah korban Covid-19 dari kejauhan sesuai dengan protokol kesehatan dalam pemulasaraannya. (AFP/BAY ISMOYO)

Ilmu Ikhlas Bunuh Kegalauan

Imang tak menampik soal pikiran negatif yang pernah menghinggapi saat pertama kali ditugaskan mengurus pemakaman jenazah korban corona. Dia bahkan mengaku sempat hampir menolak, namun batinnya tak tega jua.

“Ya enggak tega, mau bagaimana juga tidak tega,” katanya.

Ketidaktahuan proses yang benar di kala berhadapan dengan para jenazah ini, hingga takut tertular virus kian menghampirinya kala itu. Pun begitu dengan teman-teman Imang yang sama ketakutannya dengan dirinya.

Sebab tak ada jalan lain selain melakukan kewajiban dan tugas selaku petugas pemakaman, yang dilakukan Imang hanya saling menguatkan satu sama lain.

“Kita tuh waktu itu bilang ke masing-masing, ‘udah enggak apa-apa, kudu ikhlas insyaallah surga. Kita harus rida’. Padahal, di hati saya juga sudah jerit-jerit. Galau kata anak muda sih,” kata dia.

Meski begitu, satu bulan telah berlalu kini Imang tak lagi galau atau pikirannya kusut ketika berhadapan dengan jenazah korban virus corona ini. Kata dia, semuanya memang harus dijalankan dengan ikhlas, maka akan berjalan dengan lancar.

“Buktinya insya Allah saya sehat, teman-teman saya sehat di sini. Kita memang harus rida dan ikhlas, itu saja,” kata Imang.

TPU Pondok Ranggon adalah satu dari tiga TPU yang dipilih Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menjadi tempat peristirahatan terakhir jenazah korban corona.

“Enggak bisa hitung, sudah banyak. Kan awalnya satu dua, satu dua. Sekarang mah sudah capek menghitungnya juga. Sudah banyak itu makamnya juga kalau dilihat langsung sudah penuh,” kata Imang.

Petugas melakukan penyemprotan cairan disinfektan ke tubuh pekerja TPU yang baru selesai memakamkan jenazah Covid-19. (AFP/BAY ISMOYO)

Mandi di Luar Rumah dan Pemandian Khusus Petugas di TPU

Menjadi salah satu ‘pahlawan’ yang bertugas dan bersentuhan langsung dengan para jenazah yang tentu saja masih membawa bibit-bibit virus tersebut tentu membawa berbagai kekhawatiran bagi Imang dkk.

Sedikit terkekeh di seberang sambungan telepon, Imang bercerita ada satu kawannya yang sempat dilarang masuk ke rumah oleh istrinya sebelum mandi bersih ketika pulang bekerja.

“Jadi istrinya sudah siapkan segala alat mandi di halaman rumah. Tiap teman saya pulang ini disuruh mandi dulu di luar,” ungkap Imang.

Beruntungnya Imang tak ‘sesial’ kawannya itu. Istrinya cukup pengertian karena tahu bahwa setiap usai bekerja tentu Imang juga membersihkan diri dahulu. Imang menyatakan dirinya tak akan serta merta pulang dalam keadaan keadaan kotor.

Semenjak pandemi Covid-19 membludak, Imang mengatakan telah menyediakan tempat khusus cuci dan mandi untuk para petugas penguburan.

“Jadi kami mandi dulu. Disemprot dulu, dibersihkan dari kuman-kuman lah pokoknya,” kata dia.

Tak hanya itu, bahkan di areanya bekerja kini telah tersedia tempat pemeriksaan kesehatan gratis bagi para petugas pemakaman.

Imang menceritakan butuh waktu kurang lebih tiga pekan sejak ia dan kawan-kawan memakamkan jenazah Covid-19, hingga ada relawan yang menyediakan posko kesehatan di area pemakaman.

Petugas pemakaman dan petugas lain dengan Alat Perlindungan Diri (APD) mencangkul tanah untuk menutupi peti mati jenazah korban virus corona (Covid-19), Jakarta, 15 April 2020. (AFP/BAY ISMOYO)

Imang sangat bersyukur atas kehadiran posko kesehatan tersebut di lingkungan kerjanya. Pasalnya, jika pergi ke Puskesmas–yang memang dianjurkan atasannya– tentu akan memakan waktu yang tidak sedikit, sementara jenasah yang hendak dimakamkan semakin menumpuk.

“Kami kan di bawah Pemprov dianjurkan ke puskesmas buat pemeriksaan kesehatan pakai BPJS bisa, tapi kan lama, harus antri. Mayat tidak bisa antri buat dimakamkan,” kata dia.

Di TPU Pondok Rangon sendiri dalam penanganan jenazah wabah corona ini dibagi dalam empat grup petugas pemakaman. Setiap grup terdiri dari 22 orang.

Dengan pembagian grup ini diberlakukan sistem sif per grup. Setiap grup akan diberi tugas selama satu pekan penuh. Dan, setiap harinya menggali minimal 20 liang lahat secara manual untuk jenazah Covid-19.

Bicara soal banyaknya jenazah, Imang bercerita sejak wabah menyerang jam kerja dia sudah tidak karuan. Semula dia hanya bekerja dari pukul 07.00 pagi hingga 16.00 pagi. Kini, malam hari pun kadang Imang harus bekerja ekstra memulasarakan jenazah.

“Karena di akhir-akhir jam kerja itu biasanya datang tiba-tiba jenazah, ya itu, minta dikuburkan, kalau kita tinggal kasihan kan,” katanya.

Perkembangan kasus corona di Indonesia memang terus mengalami peningkatan, data terbaru yang dipaparkan oleh Juru Bicara Pemerintah untuk penanganan wabah corona, Achmad Yurianto  angka positif per Senin (20/4) kemarin mencapai 6.760 kasus. Dari angka itu, sebanyak 590 diantaranya meninggal dunia. Dari jumlah tersebut tertinggi masih dimiliki DKI Jakarta.

Data per Senin menunjukkan data kasus corona positif di DKI telah mencapai angka 3.112 kasus. Dari jumlah itu, 297 orang meninggal dunia dan 237 lainnya dinyatakan sembuh.

Baca Juga

Back to top button