Nurcholish Madjid (Cak Nur) dan NDP HMI

Abadikini.com, JAKARTA – Setelah pulang haji pada bulan Maret 1969, saya mempersiapkan segala sesuatu yang terkait dengan tugas-tugas saya di HMI, karena pada bulan Mei berikutnya akan dilangsungkan Kongres HMI kesembilan di Malang. Sebagai Ketua Umum PB HMI, saya tentu harus mempersiapkan laporan pertanggungjawaban. Tetapi selang waktu antara pulang haji sampai kongres itu juga saya pergunakan untuk menyusun risalah kecil berjudul Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP).

Risalah kecil ini sebetulnya merupakan penyempurnaan dari Dasar-Dasar Islamisme yang sudah saya tulis sebelumnya, pada tahun 1964-an, yang saya sempurnakan dengan bahan-bahan yang saya kumpulkan terutama dari perjalanan ke Timur Tengah. Jadi, dapatlah dikatakan risalah kecil ini memuat ringkasan seluruh pengetahuan dan pengalaman saya mengenai ideologi Islam. Dan Alhamdulillah, dua bulan kemudian, yaitu pada bulan Mei 1969, kongres HMI kesembilan di Malang menyetujui risalah saya itu sebagai pedoman bagi orientasi ideologis anggota anggota HMI.

Dalam menulis risalah itu, saya terutama diilhami oleh tiga fakta. Pertama, adalah belum adanya bahan bacaan yang komprehensif dan sistematis mengenai ideologi Islam. Kami menyadari sepenuhnya kekurangan ini di masa Orde Lama, ketika kami terus-menerus terlibat dalam pertikaian ideologis dengan kaum komunis dan kaum nasionalis kiri, dan sangat memerlukan senjata untuk membalas serangan ideologis mereka. Pada waktu itu, kami harus puas dengan buku karangan Tjokroaminoto, Islam dan Sosialisme, yang tidak lama kemudian kami anggap tidak lagi memadai. Alasan kedua yang mendorong saya untuk menulis risalah kecil itu adalah rasa iri saya terhadap anak-anak muda komunis.

Oleh Partai Komunis Indonesia (PKI), mereka dilengkapi dengan sebuah buku pedoman bernama Pustaka Kecil Marxis, yang dikenal dengan singkatannya PKM. Alasan yang ketiga, saya sangat terkesan oleh buku kecil karangan Willy Eichler yang berjudul Fundamental Values and Basic Demands of Democratic Socialism. Eichler adalah seorang ahli teori sosialisme demokrat, dan bukunya itu berisi upaya perumusan kembali ideologi Partai Sosialis Demokrat Jerman (SPD) di Jerman Barat. Sekalipun asal mula partai itu adalah gerakan yang bertitik tolak dari Marxisme, yang tentu saja “sekuler”, tetapi dalam perkembangan selanjutnya Marxisme di situ tidak lagi dianut secara dogmatis dan statis, melainkan dikembangkan secara amat liberal dan dinamis. Salah satu bentuk pengembangan itu, adalah dengan memasukkan unsur keagamaan ke dalam sistem ideologinya.

Upaya perumusan kembali itu dilakukan antara lain dengan risiko bahwa mereka kemudian memperoleh cap sebagai bukan lagi sosialis, apalagi Marxis, oleh partai-partai dan orang-orang komunis. Tetapi, seperti kita ketahui, revisionisme Eichler itu berdampak sangat baik: SPD mampu memperluas basis massanya, sehingga berhasil memenangkan beberapa kali pemilihan umum di Jerman dan menjadikannya pemegang pemerintahan (bersama dengan Partai Demokrat Liberal atau FDP).

Kemenangan itulah yang membawa Willy Brandt dan Helmut Schmidt menjadi Kanselir Federal Jerman antara 1969-1974 dan 1974-1982. Salah satu gagasan pokok yang menarik dalam teori Eichler itu, misalnya, adalah pemahamannya tentang demokrasi dan sosialisme atau keadilan sosial yang dinamis.

div class="__mango" data-placement="163">

Dalam pengertian dinamis itu ialah bahwa demokrasi serta keadilan sosial tidak dapat dirumuskan sekali jadi untuk selama-lamanya, tetapi nilai-nilai itu tumbuh sebagai proses yang berkepanjangan dan lestari tanpa putus-putusnya. Suatu masyarakat adalah demokratis selama di situ terdapat proses yang tak terputus bagi terselenggaranya sistem pergaulan antarmanusia yang semakin menghormati dan mengakui hak-hak asasinya.

Dan masyarakat itu sosialis atau berkeadilan sosial kalau ia mengembangkan sistem ekonomi yang semakin luas dan merata penyebaran dan pemanfaatannya. Buku kecil Eichler itu pertama kali saya peroleh dari Mas Sularso, salah seorang senior saya di HMI, sepulangnya dari menghadiri sebuah kongres mengenai koperasi di Eropa. Dan saya amat tertarik dengan isinya, terutama karena saya memperoleh model mengenai rumusan ideologi yang saya dambakan. Karena ketertarikan saya yang besar terhadap buku kecil itu, maka nama depan risalah kecil saya di atas, “Nilai-Nilai Dasar,” saya adopsi dari buku Eichler ini, yakni Fundamental Values. Pertanyaannya kemudian adalah: nilai-nilai dasar apa? Kalau disebut “Islam”, saya takut jangan-jangan klaimnya terlalu besar. Maka akhirnya saya namakan saja “Nilai-Nilai Dasar Perjuangan”, disingkat NDP. Kata “Perjuangan” di akhir itu saya kaitkan dengan buku Sutan Sjahrir, yang berjudul Perjuangan Kita.

Tetapi ternyata Syahrir juga tidak orisinal. Ia menggunakan judul itu karena diilhami oleh karya Adolf Hitler, Mine Kampft. Risalah NDP itu saya tulis dengan pikiran dalam kepala bahwa dokumen ini adalah sebuah dokumen yang harus awet. Karena itu, jargon-jargon yang digunakan adalah jargon-jargon yang standar sekali, dan tidak menggunakan jargon-jargon yang kontemporer. Dalam pikiran saya waktu itu, rumusan ideologi yang terbaik adalah yang seperti itu. Karena, seperti yang sudah saya kemukakan pada Kongres HMI di Solo, ideologi itu cenderung ketinggalan zaman.

Oleh karena itu, lebih baik kita membuat suatu formula umum, yang kemudian bisa diterjemahkan menjadi ideologi yang spesifik menurut tuntutan ruang dan waktu. Dan Alhamdulillah, risalah saya itu mendapat sambutan baik dari banyak orang Muslim di luar HMI, dan terutama di kalangan cendekiawan muda.

Walaupun banyak di antara gagasan-gagasannya menganjurkan pembaruan atau perubahan dalam pemahaman mengenai Islam yang terdapat di Indonesia, penyajiannya menggunakan simbol-simbol dan ungkapan-ungkapan yang sudah tidak asing lagi, sehingga kebanyakan pembacanya merasa puas. Bahwa NDP bisa awet, itu terbukti sampai sekarang. Risalah itu hingga sekarang tetap menjadi pedoman ideologis bagi pengkaderan anak-anak HMI. Sekarang namanya memang diganti menjadi Nilai Identitas Kader (NIK). Konon, setelah asas tunggal dan lainnya, pemerintah Orde Baru merasa keberatan dengan istilah “perjuangan”. Pokoknya, kata itu terasa mengandung ancaman. Tetapi isinya tetap tidak berbuah.

Disadur dari buku Ensiklopedi Nurcholish Madjid, Karya BUDHY MUNAWAR-RACHMAN, Democracy Project Yayasan Abad Demokrasi, Jakarta 2011.

Topik Berita

Baca Juga

Back to top button
Close