Babak Belur Dihantam Corona, Pentagon Sok Menggertak Lawan-lawan Amerika Serikat

Abadikini.com, JAKARTA – Pentagon memperingatkan musuh mereka agar tak coba-coba menyerang meski AS kini tengah dihantam oleh virus corona.

Pernyataan itu disampaikan setelah kapal induk USS Theodore Roosevelt harus ditambatkan di Guam setelah beberapa kru-nya disebut terinfeksi.

Keterangan demi keterangan disampaikan Pentagon di tengah keraguan mengenai kesiapan militer mereka, setelah 2.031 tentara terpapar virus corona.

“Kami masih mampu dan siap bagaimana pun ancamannya,” tegas Chairman Gabungan Kepala Staf, Jenderal Mark Milley pada Kamis (9/4/2020).

Milley menekankan, dia memberikan pesan kepada setiap musuh AS yang hendak memanfaatkan situasi wabah untuk mengeruk keuntungan.

“Itu akan menjadi kesalahan yang tragis dan menyedihkan jika mereka sampai berpikiran hal seperti itu,” ujar Milley dikutip AFP Jumat (10/4/2020).

150 markas terdampak

Tidak seperti Rusia, China, atau pun Iran, Kementerian Pertahanan berusaha transparan dengan mengumumkan pasukan mereka yang terinfeksi.

Setiap hari, mereka akan mengumumkan berapa jumlah personel militer, personel sipil, hingga keluarga mereka yang tertular Covid-19.

Termasuk staf sipil, anggota keluarga personel yang berdinas, hingga kontraktor, total kasus di militer AS mencapai 3.366 Jumat, dengan satu korban meninggal.

Sempat memberikan penyebaran kasus, kini Pentagon hanya merilis jumlah total agar musuh tidak mengetahui di mana saja kelemahan mereka.

Satu hal yang sudah pasti diketahui, kapal induk Theodore Roosevelt terpaksa berlabuh cukup lama setelah 416 dari 4.800 awaknya terinfeksi.

Lebih dari setengah kru-nya dievakuasi, kemudian seluruh penghuni Roosevelt mendapat tes, dengan semua bgian kapal dibersihkan.

Pada Kamis, Newsweek mempublikasikan peta yang menunjukkan kasus penyebaran virus corona sudah mencapai 150 pangkalan militer.

Hans Kristensen, pakar senjata nuklir dari Federasi Ilmuwan AS mengatakan, salah satu instalasi nuklir mereka juga terserang.

Social distancing di kapal selam

Strategi militer Negeri “Uncle Sam” mendemonstrasikan kemampuan mereka mengerahkan pasukan ke berbagai tempat di seluruh dunia, karena itu tak ada yang berani berbuat macam-macam.

Karena itu kasus di Roosevelt, salah satu dari dua kapal induk yang beroperasi di teater barat Pasifik, sama sekali tidak mengganggu Pentagon.

Ketika kapten Roosevelt, Brett Crozier, menjadi sorotan karena suratnya berisi usul pencegahan Covid-19, para petinggi Kemenhan AS marah.

Sebabnya, Crozier dianggap sudah membuat penilaian yang buruk dengan suratnya yang bocor ke publik. Pada 2 April, dia dicopot sebagai kapten Roosevelt.

Meski begitu, mereka memahami betapa bahayanya wabah ini. Karena itu pada awal Maret, mereka menerapkan kebijakan “gelembung”.

Artinya, kemenhan dua tim operasi secara terpisah yang akan menangani baik kapal selam maupun gudang penyimpanan senjata nuklir.

Setiap anggota menjalani karantina selama 14 hari, dan kemudian mereka saling menjaga jarak sehingga jika terjadi infeksi, tim lainnya siap.

“Anda tentu tidak bisa melakukan social distancing di dalam kapal selam atau tank. Tapi Anda harus menerapkan protokol sesempurna mungkin,” kata Menteri Pertahanan, Mark Esper.

Meski begitu, kesiapan tetap jadi sorotan. Apalagi, virus dengan nama resmi SARS-Cov-2 tersebut juga merambah ke kapal induk lain.

Antara lain USS Ronald Reagan yang tengah ditambatkan di Jepang, USS Carl Vinson, dan USS Nimitz, yang keduanya menjalani perawatan di Washington.

Berdasarkan keterangan dari Angkatan Laut AS, semua kru yang terinfeksi segera dikeluarkan dari kapal dan pulih pasca-menjalani perawatan.

Sembari menegaskan kesiapan angkatan perang AS tak berpengaruh, Vice Chairman Gabungan Kepala Staf, Jenderal John Hyten, menyatakan AL berusaha melindungi semua armada dari Covid-19.

Informasi sesat

Wakil Menteri Pertahanan, Laura Cooper, menerangkan keraguan akan kesiapan militer ditengarai karena informasi sesat dari Rusia.

“Kami sudah mendapatkan banyak informasi hangat, mengenai siap atau tidaknya militer kami,” kara Cooper yang juga pakar Rusia.

Milley berujar, 2,000 personel infeksi bukanlah “jumlah besar” mengingat total personel aktif militer mereka yang berjumlah 2,3 juta.

“Saya ingin memastikan semua orang untuk mengerti, bahwa kesiapan militer AS tak perlu diragukan. Kami masih kuat dan siap menghadapi ancaman apa pun,” jelasnya.

Sumber Berita
Kompas.com
Topik Berita

Baca Juga

Back to top button
Close