Sebelum Vaksin Ditemukan Dunia Tak Akan Bisa Lepas dari Lockdown

Abadikini.com, JAKARTA – Penguncian atau status lockdown yang diberlakukan hampir di seluruh dunia untuk mencegah penyebaran Covid-19 disebut dalam sebuah studi hanya dapat berakhir ketika vaksin ditemukan. Artinya, dunia akan terus dikunci jika tak mau penularan terus terjadi.

Sebuah studi terbaru tentang pengalaman Tiongkok menyebutkan fakta gelombang kedua virus Korona di Tiongkok tampak nyata dari orang-orang tanpa gejala. The Guardian melaporkan bahwa Tiongkok kini sedang berjuang menghadapi bahaya gelombang kedua.

Studi ini dipublikasikan dalam jurnal penelitian medis The Lancet. Langkah-langkah kontrol ini tampaknya telah mengurangi jumlah infeksi ke tingkat yang sangat rendah. Akan tetapi tanpa kekebalan kawanan (herd immunity) terhadap Covid-19, kasus-kasus dapat dengan mudah muncul kembali ketika bisnis, operasi pabrik, dan sekolah secara bertahap beroperasi lagi.

“Terutama mengingat meningkatnya risiko kasus impor dari luar negeri karena Covid-19 terus menyebar secara global,” kata Peneliti Universitas Hongkong, Prof Joseph T Wu seperti dilansir dari AsiaOne, Jumat (10/4/2020).

Studi tersebut mengatakan bahwa jumlah kasus baru dapat meningkat lagi jika kehidupan normal dibiarkan berlanjut terlalu cepat. Maka aturan jarak fisik tetap harus dilakukan secara disiplin sampai vaksin ditemukan.

“Kebijakan kontrol seperti jarak fisik dan perubahan perilaku bisa dipertahankan untuk beberapa waktu, strategi terbaik sampai vaksin efektif tersedia secara luas,” kata Wu.

Studi yang didasarkan pada pemodelan epidemi di Tiongkok, menunjukkan bahwa tingkat kematian di daratan Tiongkok jauh lebih rendah, kurang dari 1 persen. Jauh dibandingkan dengan di provinsi Hubei, hampir 6 persen.
Itu juga dipengaruhi oleh kemakmuran ekonomi masing-masing provinsi, dan layanan kesehatan yang tersedia.

“Temuan kami menyoroti pentingnya memastikan bahwa sistem perawatan kesehatan lokal memiliki staf dan sumber daya yang memadai untuk meminimalkan kematian akibat Covid-19,” kata penulis senior Prof Gabriel M Leung dari University of Hongkong.

Penelitian itu mengatakan, membiarkan tingkat infeksi meningkat lagi malah akan menimbulkan kerugian kesehatan dan ekonomi yang lebih sulit lagi. Beberapa negara yang memberlakukan lockdown di antaranya negara-negara di Eropa. Lalu di Asia, mulai 18 Maret, Malaysia menegakkan perintah kontrol gerakan (MCO). Orang-orang diinstruksikan untuk tinggal di rumah dan aktivitas sangat dibatasi, dengan hanya layanan penting yang diizinkan untuk beroperasi.

Fase pertama MCO seharusnya berakhir pada 31 Maret tetapi diperpanjang hingga 14 April. Begitu juga Singapura sudah memberlakukan semi lockdown sejak 7 April. Dan Filipina juga sudah memberlakukan lockdown seiring jumlah kematian yang juga tinggi. Sedangkan di Indonesia, khususnya Jakarta, sudah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mulai hari ini, Jumat (10/4/2020).

Sumber Berita
Jawa Pos
Topik Berita

Baca Juga

Back to top button
Close