Hasil Penelitian Menunjukkan Perceraian dan Kekerasan Rumah Tangga Meningkat saat Covid-19, Benarkah?

Abadikini.com, JAKARTA – Virus korona mengubah baerbagai aspek kehidupan termasuk pernikahan. Banyak hal buruk terjadi pada pernikahan dalam masa-masa genting ini, karena salah satu atau kedua orang dalam pernikahan itu tidak bisa memisahkan tekanan akibat corona dengan pernikahannya sendiri.

Dilansir dari Psychology Today, penelitian menunjukkan bahwa bencana alam dapat menyoroti kekuatan dalam suatu hubungan namun juga akan mengungkap masalah.

Perceraian

The Journal of Family Psychology menerbitkan sebuah penelitian yang mengamati pasangan setelah Badai Hugo pada tahun 1989 dan dari sana ditemukan lebih banyak pasangan yang mengajukan perceraian setelah trauma terjadi. Di Tiongkok,  Xi’an form perceraian jumlahnya meningkat dibandingkan sebelumnya.

Kekerasan

Selain perceraian, penelitian juga menemukan bahwa kekerasan dalam rumah tangga dapat meningkat selama masa isolasi.

Alasan hal buruk ini terjadi

Kebanyakan pasangan biasanya menghabiskan sebagian besar waktunya terpisah mengingat satu di antaranya (atau keduanya) bekerja di luar rumah. Sekarang kedua pasangan diharuskan menghabiskan sepanjang hari bersama.

Ada pula faktor lain yang berpengaruh seperti  kecemasan tentang kesehatan, potensi pengangguran, ketidakamanan keuangan, pengasuhan orang tua lanjut usia, kurangnya hubungan sosial di luar rumah, juggling pengasuhan anak, mengatur pekerjaan rumah tangga dan mengelola pekerjaan umum ketidakpastian tentang masa depan.

Jika sudah ada kerentanan dalam hubungan, mereka lebih cenderung terungkap dengan stresor ini. Berada di sekitar keanehan satu sama lain sepanjang hari (dan malam) bersama dengan semua stresor ini, dapat memunculkan masalah yang telah menggelegak di bawah permukaan.

Selain itu, pasangan mungkin menggunakan mekanisme koping yang berbeda selama stres. Misalnya, satu pasangan mungkin lebih mau mengambil risiko sementara yang lain mungkin fokus pada menjaga kehidupan sebisa mungkin atau bisa juga satu pasangan mungkin mengambil pendekatan proaktif; yang lain mungkin lebih pasif dan putus asa.

Perbedaan ini membuat pasangan berbenturan dan polarisasi ini dapat mengakhiri hubungan jika pasangan tidak mengambil langkah-langkah yang tepat.

Sumber Berita
medcom
Topik Berita

Baca Juga

Back to top button
Close