Betapa Malunya Trump, Penelitian Terbaru Ungkap Virus Corona Bukan dari China

Abadikini.com,  JAKARTA – Kecurigaan Presiden Donald Trump bahwa serangan Virus Corona atau COVID-19 yang memperburuk kondisi Amerika Serikat berasal dari China akhirnya terbantahkan setelah muncul hasil penelitian baru yang cukup mengejutkan.

Penelitian itu tak hanya berasal dari satu tempat saja, ada dua penelitian yang mengungkap hasil yang sama, bahwa virus corona Amerika bukan dari China.

Yang pertama ialah hasil penelitian ahli genetika Sekolah Kedokteran Icahn di Gunung Sinai, Harm van Bakel.

Dalam hasil penelitiannya diketahui bahwa ternyata virus corona yang menyerang Amerika dan khususnya New York bukan berasal dari Asia. Tapi melainkan dari Eropa.

Virus disebutkan masuk ke New York pada pertengahan Februari 2020 atau beberapa minggu sebelum kasus pertama dikonfirmasi, dibawa oleh pelancong asal Eropa.

Penelitian ini mengungkapkan penyebaran virus yang sebelumnya tersembunyi yang mungkin telah terdeteksi jika program pengujian agresif telah dilakukan.

Untuk diketahui, New York merupakan kota yang kini ditetapkan sebagai pusat pandemi corona dunia, sebelumnya status ini disandang Provinsi Hubei di China.

Hingga saat ini, sudah 432.132 warga Amerika terinfeksi corona. Dan jumlah terbanyak ditemukan di New York. Bahkan, sudah 4.571 orang meninggal dunia di New York akibat corona.

Perlu diketahui pula, beberapa waktu lalu, Trump dengan sengaja menyerang China dengan pernyataan rasisnya yang menyebutkan virus corona dengan julukan Virus China. Bahkan, Trump dengan sengaja mengubah teks pidato resminya dari kalimat Corona Virus menjadi Chinese Virus.

Akibat perbuatan Trump itu, China marah besar. Mereka balik menyerang menyebut corona sudah menyerang Amerika jauh sebelum kasus pertama corona ditemukan di Kota Wuhan China.

“Mayoritas jelas orang Eropa,” kata Harm van Bakel seperti diberitakan NyTimes, Kamis (9/4/2020).

Hasil penelitian kedua diterbitkan N.Y.U. Grossman School Of Medicine. Kesimpulan penelitiannya sangat mirip, meskipun penelitian dilakukan dengan mempelajari kelompok kasus yang berbeda. Tim menganalisis genom dari coronavirus yang diambil dari New York mulai pertengahan Maret.

Sumber Berita
Viva.co.id
Topik Berita

Baca Juga

Back to top button
Close