Benjamin Netanyahu Dinilai Gagal, Wabah Corona Buat Ibu Kota Israel Luluh Lantak

Abadikini.com, JAKARTA – Melansir kanal YouTube Lembaga Studi Pengembangan Peradaban (LSiPP) hingga Selasa (6/4/2020) jumlah pasien corona di Israel melonjak tajam.

Baca Juga

Dalam satu hari terakhir terdapat 760 kasus sehingga jumlah orang Israel yang positif terinfeksi corona sebanyak 8.611 orang.

Diketahui, dari sebagian besar pasien corona di Israel banyak yang sudah menggunakan ventilator dan berada dalam kondisi kritis.

Saat ini kondisi Ibu Kota Yahudi menjadi justru menjadi episentrum dari wabah corona. Hal ini diperparah dengan budaya dan tradisi orang Yahudi sehari-hari sangat gemar berkumpul dan berkelompok menjadi medan berkembangnya virus.

Bahkan menurut analisis salah satu media ternama di Israel, Yedioth Ahronoth mengatakan bahwa pusat-pusat Yahudi bukan hanya di Israel saja menjadi episentrum wabah ini. Tetapi juga di New York di dekat Manhattan, di Brooklyn, kemudian di Inggris dan di Prancis mengalami hal yang sama.

Pertama, mengapa ini menjadi pusat yang luar biasa, terutama di Israel yang membuat Ibu Kota Yahudi itu luluh lantak dan kemungkinan akan lockdown secara total beserta dengan sejumlah kota lain karena memang ada keraguan pemerintahan Benjamin Netanyahu dalam menerapkan lockdown secara total. Dan itulah yang membuat penyebaran corona semakin meluas dan massif di Israel.

Tampaknya pemerintah Israel masih ragu-ragu untuk melakukan lockdown dan juga masih memberikan toleransi kepada pergerakan dan aktivitas masyarakat akan tetapi di sisi lain mereka belum dan tidak siap dengan antisipasi mewabah virus corona.

Ini situasi yang sangat tragis, seperti dikatakan Yedioth Ahronoth yang paling terpukul adalah pusat-pusat komunitas Yahudi di berbagai belahan negara. Bahkan korban yang ada di New York dikatakan bahwa 11 persen dari komunitas Yahudi baru yang lain-lain.

Di Amerika Serikat, hampir 40 persen kasus ada di New York sedangkan di New York mayoritas terjadi komunitas Yahudi sisanya tersebar ke yang lain-lain.

Inilah yang membuat banyak komentator di media-media penting di Israel seperti Israel24 dan The Times of Israel mengecam keras karena pemerintahan Benjamin Netanyahu dianggap tidak mumpuni menyelesaikan problem yang sedang terjadi sehingga hari-hari ke depan yang diperkirakan terjadi lonjakan orang-orang yang terinfeksi virus corona harus dipaksa Israel mengambil kebijakan Lockdown total.

Sangat mengerikan apa yag terjadi di Israel, dimana dianggap sebagai negara yang banyak dihuni orang yang sangat hebat karena otaknya, karena teknologinya yang banyak mempengaruhi negara-negara lain ternyata gagap di dalam menghadapi perkembangan virus yang memang tidak terkendali ini.

Sekalipun hari ini virus corona di Israel baru memakan korban jiwa sebanyak 51 orang tetapi hasil penelitian departemen kesehatan Israel sebuah komunitas Yahudi yang jumlahnya hanya 200 ribu orang yang terinfeksi bisa mencapai 34 persen sekitar 68 ribu orang.

Hanya memang yang dicatat di Israel, seperti di negara lain adalah jumlah yang tercatat di dalam rumah sakit. Orang yang terinfeksi kemudian melakukan isolasi diri demikian bannyak jumlah. Misalnya di sekitar wilayah Tel Aviv jumlahnya memcapai 74 ribu orang.

Jadi jika ada pihak yang menuding bahwa Amerika Serikat dan Israel atau bahkan China berada di belakang penyebaran wabah corona ini sangatlah kurang tepat karena bisa dikatakan mereka juga tak mampu mengendalikan penyebaran wabah ini.

Hanya saja saat ini, antara Amerika Serikat dan China bukanya bekerja sama justru saling tuding dan menyalahkan atas siapa pihak yang pertama kali menyebarkan virus corona ini. Di sisi lain, India siap menuntut China senilai US$2 Triliun atas dampak dan kerugian yang disebabkan oleh wabah ini.

Selengkapnya simak videonya berikut ini.

Baca Juga

Back to top button