Krisis APD dan Simalakama untuk Dokter: “Nggak Ditolong Gimana, Ditolong Kita Mati Konyol”

Abadikini.com, JAKARTA – Seorang dokter di rumah sakit swasta ibu kota mengeluhkan masih minimnya Alat Pelindung Diri (APD) meski sudah didatangkan berjuta-juta buah dari China. Ia mendesak pemerintah menggenjot produksi sendiri yang dipusatkan di salah satu konveksi yang ada di dalam negeri.

“Kenapa sih enggak pemerintah datangi aja pabrik, gimana caranya. Kenapa enggak bisa sih, datangi saja pabriknya. Kan pabriknya kan banyak, nanti (minta) produksi aja yang banyak pemerintah yang beli,” kata dokter itu kala dihubungi Liputan6.com, Selasa (31/3/2020).

Namanya dokter tersebut sengaja kami samarkan untuk melindungi identitas narsum.

Dalam situasi seperti ini, kata dokter itu pemerintah mestinya mengkoordinasi penyebaran masker ke seluruh Indonesia dan memprioritaskan rumah sakit terlebih dahulu.

“Kami kasih-lah perlindungan. Kaya kasus yang banyak itu, kaya Covid-19 ya banyak dokter (kena) sejujurnya karena kami pun yang menolong pasien dari awal itu enggak mendapat perlindungan maksimal. Harus gimana? Enggak ditolong gimana, ditolong kita mati konyol,” tegas dokter.

Selain kekurangan masker, dokter juga mengaku begitu kesulitan mendapatkan alat perlindungan diri atau APD. Baju APD yang begitu utama digunakan untuk memeriksa pasien Covid-19 persediaannya begitu terbatas.

Guna menanggulangi hal itu ia pun mengusulkan supaya pemerintah memberdayakan anak-anak panti untuk menjahit APD.

“Enggak bisa apa ngumpulin 100 tukang jahit produksi itu (APD). Gimana apa kaya konveksi itu di Bandung, pusatkan aja di Bandung,” katanya.

Ia juga mengusulkan supaya pemerintah semestinya mengubah pabrik konveksi untuk memproduksi APD. Dan hasilnya bisa dibeli oleh pemerintah guna didistribusikan ke seluruh rumah sakit di Indonesia.

“Ya saya rasa mereka (pabrik) mau lah. Kemarinkan nunggu barang dari China ternyata barang Indonesia juga, pengen marah rasanya tapi marah sama siapa?” tuturnya.

Sayangkan Orang Berduit Undang Dokter & Alat Lengkap Buat Tes Covid-19

Sampai pada suatu waktu salah satu pasien yang dekat dengan dia itu menunjukkan sebuah video temannya yang tengah melakukan tes Covid-19 hingga mengundang Dinkes bersama alat tesnya lengkap dengan dokter dan pera perawatnya dengan harga Rp 17 juta.

“Gila enggak? Gila enggak kaya gitu? Jadi kalau saya mau ketemu pref dan ketemu swab, satu saya ada sesuatu, saya ada duit, saya pejabat, bla, bla, bla atau napas saya udah pendek baru saya ketemu swab,” tegasnya dengan nada marah.

“Gimana enggak infeksius, gimana enggak kematian tinggi?” kesalnya.

Ia pun melaporkan kejadian tersebut kepada Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dalam sebuah rapat tertutup. Namun yang terjadi bukanlah sesuatu yang ia harapkan. Salah satu dokter senior di organisasi tersebut justru mengatakan harga tersebut terlalu murah untuk melakukan tes Covid-19.

“Komentarnya gini, ‘itu khayalan ya. Di mana itu contact person-nya’, gila gak?…’Itu khayalan berarti ya, murah sekali 17 juta’, gila gak?” tuturnya.

Di situ ia merasa kaget, bagaimana bisa senior yang ia hormati selama ini justru mengatakan seperti itu. Padahal dalam situasi kemanusiaan yang begitu genting ini. Tatkala ditanya olehnya berapa harga sebenarnya untuk tes itu, dokter tersebut membisu seribu bahasa.


Perlengkapan Kesehatan Sulit Didapat

Sementara itu, seorang dokter di salah satu rumah sakit daerah mengeluhkan sulitnya rumah sakit menyediakan masker dan alat perlindungan diri tenaga kesehatan. Dokter yang tak mau identitasnya diungkap itu menceritakan bahwa saat ini persediaan masker di rumah sakit begitu terbatas.

“Sekelas rumah sakit yang biasanya udah pesan dari distributor besar, gak dapat gitu loh,” kata dokter itu kala dihubungi Liputan6.com, Senin (30/3/2020).

Dokter anestesi itu mengungkapkan, barang-barang seperti masker begitu diperlukan dalam ruangan operasi. Biasanya para tenaga kesehatan bisa dengan leluasa mengambil masker untuk dipergunakan dalam ruang operasi, namun saat ini ia mengaku pihak rumah sakit hanya menyediakan 10 buah masker setiap ruang operasi perharinya.

“Jadinya dibatasinya satu ruangan operasi itu hanya untuk 10 masker. Belum ganti perawat, dokternya, yang lain. Kalau break makan ini gimana? Kan mesti diganti. Gak masuk akal,” ungkapnya.

Terlebih lagi, menurutnya sudah ada imbauan dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) karena merebaknya wabah Covid-19 meminta setiap dokter yang memeriksa pasien harus menggunakan masker.

“Untuk kita aja yang kerja di dalam (ruang operasi) susah,” tegasnya.

Dokter itu mengungkapkan, biasanya setiap hari satu ruangan operasi bisa banyak melayani pasien. Namun sejak kekurangan alat medis, setiap harinya hanya melayani beberapa saja.

“Akhirnya kita minta bagi operasi yang bisa ditunda ya ditunda dulu, kecuali operasi melahirkan ya kan itu sudah jauh-jauh hari, gak bisa ditunda juga,” tukasnya.

Sempat Tertular Pasien dan jadi Orang Dalam Pemantauan

Ia mengatakan sempat tertular setelah memeriksa pasien gejala Covid-19 yang baru pulang dari Thailand.

Akhirnya ia diisolasi pada sebuah rumah sakit. Namun menurut pemeriksaan CT Scan paru-parunya bersih atau tak menunjukkan adanya gangguan.

“Ternyata saya clear, tapi note-nya saya clear untuk saat ini. Akhirnya saya pulang dengan banyak obat. Obat nebulizer untuk sesek (napas) saya dan bla, bla, bla,” katanya.

Bukannya setelah pulang semakin baik, dokter itu merasa badannya semakin memburuk. Gejala sesak napasnya semakin menjadi-jadi. Akhirnya ia putuskan untuk menghubungi dinas kesehatan setempat.

Sudah dihubungi berkali-kali dinas kesehatan di daerahnya tak juga kunjung merespons. Kemudian ia diminta untuk mengirim riwayat pemeriksaan saat ia menjalani karantina di salah satu rumah sakit.

Berdiam di rumah tanpa adanya kejelasan ternyata bukanlah pilihan yang menyenangkan. Belum lagi ia takut menginfeksi keluarga dan asisten rumah tangganya di rumah. Akhirnya ia mencoba untuk menghubungi kenalannya di Kementerian Kesehatan dan diberikanlah obat-obatan dari salah satu dokter di rumah sakit berkat bantuan kenalannya itu.

Namun ia masih ragu untuk meminum obatnya. Ia pun mencari cara lain, akhirnya dihubungilah salah satu dokter spesialis paru di rumah sakit Jakarta. Ia konsultasi keluhannya melalui aplikasi pesan singkat WhatsApp (WA).

“Kalau swab kan ngantri tuh, kalau pref enggak dapat-dapat dari Dinkes terdekatnya belum dikirim. Dari pada enggak ada apa-apa setidaknya saya enggak menularkan aja ke anak saya. Saya dokter apalagi orang awam pasti cemasnya lebih lagi,” tegasnya.

Akhirnya ia menelan obat dari dokter yang disarankan melalui konsultasi via WA tersebut. Dan seketika ia lebih mudah untuk bernapas dengan normal. Ia mengungkapkan bahwa dokter tersebut mengatakan padanya bahwa jika ia merasa ringan setelah minum obat, maka Covid-19 dengan gejala ringan.


Minum Obat Dosis Tinggi yang Sebabkan Alergi

Kendati begitu, ia merasakan badannya begitu menggigil. Dan dadanya terasa berat untuk bernapas.

“Begitu saya minum obat yang paling dosis tinggi yang spektrum B. Dengan sediaan 500 miligram which is harus masuk ke saya 750 (miligram) saya akhirnya potong itu. Satu hari satu tapi 750 miligram yang masuk,” ungkapnya.

Rupanya obat tersebut bukan tanpa efek samping, tapi menimbulkan ruam di bagian kulit letak organ tubuh diserang Covid-19. Dokter itu mengaku leher dan dadanya penuh dengan ruam bak pulau-pulau kecil di kulitnya.

Karena disertai reaksi alergi, maka ia diminta untuk mengonsumsi obat anti alerginya. Tak beberapa lama kondisi badannya semakin membaik.

Dalam siklus serang Covid-19, dokter itu mengatakan bahwa ada tahapan di mana pasien mengalami titik paling lemah, namun dalam standar operasional prosedur di Kementerian Kesehatan pada titik itu justru pasien diminta untuk mengisolasi diri di rumah dan tak diberi tahu harus melakukan apa. Belum lagi ia mengalami sendiri bagaimana dinas kesehatan begitu sulit untuk dihubungi karena satu dan lain hal.

“Karena sudah 4 hari aku telpon lagi Dinkes-nya. Saya katakan (ke dia) saya kan ODP berarti kamu berkenan dong datang ke saya untuk pref. (Dia jawab) oh tidak dok pref yang diperuntukkan untuk PDP,” ungkapnya.

Awalnya ia berpikiran positif bahwa memang alat tes itu terbatas ketersediaannya, makanya biarkan yang lebih membutuhkan yang diprioritaskan menggunakan alat tersebut.

Sumber Berita
Merdeka
Topik Berita

Baca Juga

Back to top button
Close